Banjir produk China ber-SNI pukul industri lokal

Surabaya – JP : Pemberlakuan ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA) membuat China kian bersemangat menggelontor pasar Indonesia. Bukan hanya produk rendah kualitas berharga murah, produk China yang sudah mengadopsi Standar Nasional Indonesia (SNI) pun mulai membanjiri pasar lokal. Saat ini sudah ada 267 produk impor asal China yang menerapkan SNI.

“Indonesia adalah pasar yang besar bagi China. Dengan masuknya produk impor ber-SNI, Ini jelas ancaman bagi industri lokal,” kata Deputi Bidang Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi, Badan Standardisasi Nasional (BSN), Dewi Odjar Ratna Komala, di sela-sela Musyawarah Wilayah (Muswil) Masyarakat Standardisasi (Mastan) DPD Jatim di Hotel Bumi, Surabaya, Selasa (19/4/).

Produk-produk ber-SNI asal China yang membanjiri pasar lokal, didominasi produk elektronik seperti lampu dan kipas angin. Produk-produk impor ini mempunyai daya saing yang lebih besar karena harganya yang berada di bawah produk lokal dengan standard sama.

Sebelumnya, China bahkan telah membeli 670 dokumen SNI untuk berbagai produknya. “Awalnya mereka ingin membeli semua dokumen SNI kita namun, setelah disesuaikan dengan kebutuhan industri mereka, sekitar 670 dokumen yang mereka beli.

Dokumen-dokumen ini nantinya dijadikan patokan untuk proses produksi di industri mereka. Saat ini BSN sudah mengeluarkan sekitar 6680 dokumen SNI yang menjadi acuan produk berkualitas di Indonesia.

Di lain pihak, produk lokal Indonesia sendiri masih minim yang menerapkan SNI. Di Jatim misalnya, dari sekitar 350.000 produk lokal, hanya 170 atau sekitar 0,2% yang sudah menerapkan SNI. Ke depannya, BSN akan mendorong perusahaan besar dan usaha kecil dan menengah (UKM) untuk menstandarkan produk mereka.

“Dengan menerapkan SNI, kualitas produk lokal akan meningkat dan mampu bersaing dengan produk impor.

Saat ini yang menjadi kendala utama penerapan SNI di produk-produk lokal,  adalah bahan baku yang belum memadai dan ongkos produksi yang masih tinggi.

LEAVE A REPLY