Di Asia, Indonesia Urutan 9, Sulut Masih Juru Kunci Sebagai Tujuan Wisata

 BERITAMANADO.COM-JP : Industri pariwisata akhir-akhir ini telah menjadi industri terbesar yang bahkan menjadi andalan negara-negara dunia sebagai sumber devisa yang memperkuat ekonomi nasional setiap negara. Menurut data  United Nations World Tourism Organization (UNWTO), paling tidak hampir 1 miliar manusia bepergian ke seluruh penjuru dunia setiap tahunnya, dimana para pelancong menghabiskan waktu dan dananya untuk melihat tempat-tempat yang dianggap bisa memberikan nuansa baru bagi setiap orang.

Dari jumlah itu, terdapat kurang lebih 50 juta pelancong mengunjungi Afrika, 60 juta mengunjungi Timur Tengah, 150 juta mengunjungi benua Amerika, 200 juta mengunjungi Asia Pasifik, hampir setengahnya atau sekitar ± 500 juta orang mengunjungi Eropa.

Data ini menunjukkan hanya 20% yang menetapkan Asia sebagai tujuan wisata dari seluruh pelancong yang berasal dari seluruh dunia. Dan dari yang hanya 20% itu, data yang cukup mengejutkan menyebutkan Indonesia sebagai tujuan wisatanya hanyalah 3%, atau ±6 juta kunjungan wisata dari 200 juta pelancong yang berkunjung di Asia untuk rata-rata kunjungan per tahun. Angka ini adalah angka kedua terakhir dari 10 negara tempat tujuan wisata di Asia Pasifik yang menempatkan China sebagai tujuan utama disusul, Malaysia, Hong Kong, Thailand, Macau, Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Indonesia hanya unggul dari Australia dalam rangking top ten tempat tujuan wisata di Asia Pasifik.

Di Indonesia, jumlah ini tersebar di beberapa pintu masuk seperti bandara Soekarno Hatta di Jakarta, Ngurah Rai di Bali, Medan, Batam, hingga Sam Ratulangie di Sulawesi Utara. Dari data BPS, total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia untuk tahun 2010 misalnya adalah, 7 juta wisatawan. Dari angka itu hanya 0.3% atau ±20.000 wisatawan yang berkunjung ke Sulut atau masuk melalui pintu Sam Ratulangi. Angka ini terbilang relatif sangat kecil dibanding kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Bali, dan beberapa tempat lain di Indonesia.

Fakta ini menunjukkan bahwa, potensi pariwisata di Sulawesi Utara sungguh sangatlah belum tergarap atau boleh dibilang belum menjadi tempat tujuan wisata utama dari para wisatawan asing. Padahal, SULUT dengan segala potensinya dapat dibilang terbaik dibanding beberapa tempat di Indonesia.

Sebut saja wisata bawah laut, wisata alam, wisata pantai, wisata budaya, MICE, dll, yang semuanya memberikan daya tarik pariwisata yang sangat berpotensi memberikan sumber devisa bagi daerah ini untuk mengangkat perekonomian daerah secara khusus dan nasional secara umum.  Belum lagi pasar wisata MICE yang akhir-akhir ini sangat intens digalakkan pemerintah, harusnya diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Sulawesi Utara untuk menjadikan daerah ini sebagai tempat tujuan wisata utama.

Karena itu, sangatlah penting bagi daerah ini untuk berbenah, bukan hanya pemerintah tetapi seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi menyatukan visi agar dunia pariwisata di SULUT dapat bertumbuh secara cepat dan memberikan dampat yang positif bagi geliat ekonomi daerah ini.

Sulut juga secara spektakuler mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah perhelatan strategis terkait pariwisata ASEAN, yakni ASEAN Tourism Forum (ATF) ke 31  yang akan berlangsung pada 8-15 Januari 2012. ATF adalah forum penting bagi para stakeholders ASEAN dan dunia secara umum karena menjadi ajang dialog berbagai isu dan peluang kerjasama pariwisata bagi Menteri Pariwisata se ASEAN, para pimpinan NTO, buyers, sellers dan media Internasional. ATF 2012 dengan tema “ASEAN Tourism for Global Community of Nations”, akan menjadi iven akbar di Sulut atas nama Indonesia.  Tentu berbagai peluang dan kesempatan terbuka luas dan harus direbut demi masa depan pariwisata Sulut.

Apa yang harus kita lakukan untuk mendongkrak Sulut sebagai daerah tujuan Pariwisata di Indonesia dan Internasional tentunya? Masih panjang perjalanan kita, tapi langkah kita sudah di mulai, mari kita bersatu padu untuk menunjang Sulut jadi daerah tujuan Pariwisata Dunia. Berbenahlah!!

Oleh: , pemerhati isu-isu masyarakat dan pekerja social. Jan 2012.

LEAVE A REPLY