Meski PDIP Menang, Jokowi Effect Dinilai Tak Terlalu Signifikan

aksesJurnalpatrolinews-Jakarta– Direktur Eksekutif IndoStrategi Andar Nubowo mengatakan, meski pun PDI Perjuangan unggul dalam berbagai rilis Hitung Cepat dengan perolehan suara 19 persen, efek Jokowi tampak tidak terlalu signifikan.

“Seperti diprediksi banyak lembaga survei sebelum Pemilu bahwa PDIP akan meraih lebih dari 30% suara. Jika tidak, hanya meraup 20% suara saja,” ujar Andar kepada BeresNews.com, Rabu (9/4) malam.

Menurutnya, hasil QC saat ini malah menunjukkan PDIP hanya raih 19% atau di bawah presidential threshold. Artinya, kata Andar, Jokowi yang diharapkan punya tuah politik untuk dongkrak PDIP ternyata tidak penuhi hasil yang ditargetkan.

“Ini hasil yang mengejutkan, bukan saja bagi PDIP tetapi juga bagi masyarakat luas. Sebab, PDIP ternyata masih harus berkolisi dengan partai lain untuk maju Pilpres Juli mendatang,” kata Dosen Fisip UIN Jakarta ini.

Oleh karena itu, meski menang Pileg, PDIP tampaknya tidak terlalu bergembira dengan hasil yang ada. “Kita tampaknya bakal menyaksikan kejutan kejutan politik dari PDIP pasca pileg ini dan jelang Pilpres,” tambahnya.

Sementara itu, perolehan suara Golkar yang hanya berkisar 14 persen dan mengalami penurunan signifikan, menurut Andar bisa memicu ledakan “api dalam sekam” friksi internal partai peninggalan Almarhum Soehartoisme ini, terutama terkait pencapresan ARB.

Menurutnya, dengan hasil ini, suara yang menginginkan pencapresan ARB dievaluasi kembali bisa semakin menguat. Sebab bagaimana pun, hasil ini memberikan catatan buruk bagi ARB yang gagal memenangkan target 30% bagi Partai Golkar pada Pileg ini.

Ia pun membaca bahwa penurunan suara Golkar ini merupakan akibat karma lumpur Lapindo dan Teddy bear Maladewa yang terkuak publik kurang lebih sebulan sebelum hari pencoblosan.

Yang tak kalah menarik dari hasil hitung cepat ini adalah bahwa perolehan suara partai Islam justru stabil. Tidak seperti yang diprediksi survei-survei sebelumnya yang menempatkan partai-partai Islam dengan sekitar 2-3 persen raihan suara.

Menurutnya, hal itu terjadi karena basis dukungan massa Islam Tradisionalis (NU, Muhammadiyah dan kelompok tarbiyah serta ormas Islam) masih cukup solid. Partai Islam (PKS, PKB, PAN, dan PPP) menjadi partai tengah yang bakal diperebutkan oleh PDIP, Golkar, dan Gerindra untuk berkoalisi dalam Pilpres.

Setidaknya, hasil QC tersebut mengisyaratkan peluang besar bagi partai Islam yang memungkinkan untuk membangun koalisi Poros Tengah dengan suara 29 %. Hal ini bisa dimungkinkan jika partai-partai Islam tersebut dapat bersatu dan memunculkan tokoh capres-cawapres yang didukung dan disetujui bersama.

“Apalagi, jika partai nasionalis relijius seperti Golkar, Demokrat, dan Hanura bergabung, koalisi ini bakal menjadi koalisi kuat dan potensial memenangkan Pilpres,” katanya.

Jika Koalisi Poros Tengah tidak mungkin, maka Golkar, Gerindra, atau Demokrat bisa sama-sama bersaing dengan PDIP dengan mengajak salah satu atau dua partai Islam untuk berkoalisi.

“Secara umum, Pileg kali ini sebenarnya adalah pukulan telak bagi PDIP dan Jokowi sendiri, serta Partai Golkar dan ARB. Sebab, ini dapat dianggap sebagai kemenangan partai-partai Islam yang sebelumnya dinilai tengah menuju “kematian”,” pungkasnya. (BN)

LEAVE A REPLY