Pemberdayaan Bukan Belas Kasihan

haryono20110714a1.JPGjurnalpatrolinews.com – jkt,     Keluarga yang dinamik di Sumatera Barat yang tergabung dalam berbagai Posdaya di Jorong dan Nagari, setelah beberapa waktu dengan tekun melaksanakan petunjuk Gubernurnya, Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc merasakan bahwa gerakan pemberdayaan keluarga yang dicanangkan beberapa waktu lalu bukanlah belas kasihan. Keluarga yang hanya bersifat menunggu uluran tangan dan sedekah tidak akan langgeng menikmati kebahagiaan dan kesejahteraannya. Pada waktu menerima dana hibah sekedarnya bisa senang dan membeli apa yang dapat dibeli dengan dana hibah itu. Tetapi segera setelah dana hibah habis, relatif dalam waktu singkat, maka keadaannya akan kembali seperti sedia kala. Tetapi gerakan pemberdayaan yang dicanangkan memerlukan kerja cerdas dan keras yang harus dilakukan dengan konsisten, tidak kenal mundur dan berkesinambungan.  

Sejak dicanangkannya gerakan pemberdayaan melalui pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) oleh Gubernur sekitar tiga tahun lalu,    para mahasiswa    dari  berbagai  perguruan  tinggi, antara lain Universitas Taman Siswa, Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta, dan  lainnya, para mahasiswa turun ke Nagari dan bersama tokoh masyarakat se tempat membentuk berbagai kelompok Posdaya. Pada tahapan berikutnya  pengurusnya segera bekerja keras menyegarkan kembali budaya gotong royong, mengajak keluarga mampu memberi perhatian dan  mengulurkan  tangan kepada keluarga kurang mampu untuk mengikuti berbagai pelatihan ketrampilan agar bisa membaca dan mempergunakan  peluang yang terbuka. 

Lebih-lebih  setelah Ibu Hj. Nevi Irwan Prayitno,  selaku Ketua  LKKS Sumatera Barat, meyakinkan seluruh jajarannya dengan tekad membantu  pengembangan Posdaya di seluruh Jorong dan Nagari, gerakan pemberdayaan keluarga makin marak.  Setiap Kabupaten/Kota berlomba  membentuk  Posdaya.       Ada   Posdaya  berbasis  Jorong    dan  ada  pula   Posdaya   berbasis   Masjid.      Kegiatan    setiap   Posdaya  bervariasi,   mulai dari penyegaran budaya gotong royong, memperkuat Posyandu, membentuk PAUD, sampai mencoba menanam tanaman sayur dalam lingkungan dan di halaman rumahnya sebagai Kebun Bergizi. Akhirnya awal tahun ini para peserta Konperensi Nasional Kesejahteraan Sosial 2015 terkagum-kagum karena masyarakat Sumbar telah membawa pelayanan sosial bukan sebagai “belas kasihan”, tetapi merangsang setiap keluarga untuk bekerja cerdas dan keras membangun keluarganya dengan tekun. 

Setelah berbagai kegiatan gotong royong makin marak, kesatuan dan persatuan makin kokoh, suatu skim untuk mendukung kegiatan ekonomi keluarga diperkenalkan dengan tujuan menolong keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera I. Skim itu mengajak keluarga yang ingin maju membangun kebiasaan untuk menabung dan tidak malu untuk mengambil kredit guna membangun kegiatan ekonomi mikro. Dengan tabungan diharapkan agar dikemudian hari bisa menambah kemampuan keuangan dan kalau perlu bisa mempergunakan tabungannya untuk agunan guna mendapatkan modal pinjaman yang lebih besar. Ditunjuk koperasi pada Universitas Tamansiswa (UNITAS) Padang dan di Solok untuk melayani kegiatan menabung dan menyalurkan kredit Tabur Puja. Kredit yang diperuntukkan keluarga prasejahtera itu tidak mengharuskan adanya agunan kecuali para nasabah harus mengikat kesediaan tanggung renteng dengan rekannya.                                                                                   

Dengan dukungan Rektor UNITAS, Prof. Dr. Ir. M. Zulman Harja Utama, MP serta Srikandinya Ibu Ir. Zasmeli Suhaemi, MP kegiatan penyaluran kredit Tabur Puja dalam 14 bulan terakhir ini telah melayani sekitar 3913 nasabah dengan dana bergulir sekitar Rp. 8.792.500.000,-  Karena setiap nasabah hanya boleh meminjam sebanyak-banyaknya Rp. 2 juta saja. Kecepatan bergulirnya kredit Tabur Puja mendorong jumlah nasabah yang mendapat dukungan modal menjadi hampir dua kali lipat. Lebih dari itu, para nasabah yang lulus dari program ini mempunyai kesempatan untuk makin maju dan bisa mengakses modal yang disediakan oleh beberapa bank se tempat. Untuk itu Gubernur Sumbar telah mengikuti jejak Gubernur Jatim yang membentuk lembaga penjamin agunan, yang biasa disebut Jamkrida (Jaminan Kredit Daerah), yang memungkinkan setiap peminjam dana dari bank tidak perlu harus menyediakan agunan yang memberatkan nasabah. Pembangunan yang bersifat pemberdayaan bukan suatu belas kasihan tetapi adalah kerja cerdas dan keras dengan dukungan yang memadai.        

Kesempatan pelatihan ketrampilan dan adanya jaminan bank yang makin meluas itu memberi harapan baru yang makin besar kepada masyarakat di Sumbar. Setelah skim tabungan dan kredit Tabur Puja diluncurkan, Gubernur yang pro rakyat itu segera memerintahkan agar di lingkungan Masjid Agung, dimana setiap hari, dan khususnya di hari Jumat dikunjungi oleh ribuan ummat yang melaksanakan sholat, segera dibentuk Sentral Kulakan Posdaya (Senkudaya) yang melayani banyak Warung Posdaya di desa-desa. Sampai hari ini Senkudaya telah berhasil melayani warung-warung yang dibentuk oleh entrepreneur dewa dengan modal yang sebagian diperoleh dari pinjaman dengan Skim Tabur Puja. Keluarga yang dalam hidupnya belum pernah berpikir bahwa keadaannya akan bertambah baik, dengan gotong royong dan kerja keras ternyata bisa maju dan hidupnya sejahtera. Gubernur Sumbar bukan saja memajukan ekonomi secara besar-besaran dengan mengandalkan kerja pengusaha besar, tetapi rakyat kecil di pedesaan mendapat kesempatan untuk ikut membangun negeri. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com)

LEAVE A REPLY