Terduga Teroris Tuban Tiru Serangan London, Menurut Polri

Polri memperlihatkan sejumlah foto barang bukti milik terduga pelaku teror Tuban.
Polri memperlihatkan sejumlah foto barang bukti milik terduga pelaku teror Tuban.

JurnalPatroliNews – Kepolisian Republik Indonesian (Polri) menyebut terduga teroris yang menembak pos lalu lintas (Polantas) di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, meniru aksi teror di London, Maret lalu.

“Pelaku menggunakan mobil dan menyerang polisi. Pasti mereka menonton televisi, yang seperti di sana (London),” kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar, Senin (10/04).

Boy menekankan pelaku teror di Indonesia masih menjadikan polisi sebagai target utama karena kepolisian dinilai sebagai pihak yang kerap menggagalkan misi mereka.

Aksi teror di Tuban terjadi pada Sabtu (08/04). Enam orang pelaku menggunakan sebuah mobil bewarna putih mendatangi sebuah Polantas di Kabupaten Tuban, dan menembak polisi yang sedang bertugas. “Ada tiga kali tembakan”.

Boy Rafli menceritakan, karena gagal mengenai sasaran, mereka pun melarikan diri, yang diiringi pengejaran oleh polisi. “Karena terdesak, mereka menghentikan mobil, lari ke alang-alang. Polisi mengejar.”

Keenam pelaku tewas ditembak. Sementara tidak ada korban jiwa dari pihak kepolisian.

“Dari enam itu, empat sudah diidentifikasi. Dari hasil pemeriksaan sementara mereka, atas nama AH, SA, RY dan EP. Sementara dua masih dicari materi pembandingnya.”

Bersama mereka, polisi mengamankan delapan senjata tajam, peluru dan enam senjata api rakitan, dengan harga perkiraan Polri sekitar Rp5 juta untuk setiap satu senjata api.

‘Nembak mencong-mencong’

Polri menyebut keenam pelaku ‘terindikasi’ terkait kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman yang saat ini dipenjara dalam kasus pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho Aceh Besar, 2010 lalu.

Sejumlah kasus serangan terorisme belakangan ini juga terkait kelompok ini, kata polisi.

Boy Rafli memgatakan kelompok tersebut lebih memilih ‘anak-anak muda’ karena ‘lebih idealis, kuat dan lebih mudah dimasuki’.

Dengan rekrutan seperti itu, kepolisian menilai terduga pelaku teror jaringan ini kerap amatiran.

“Latihan nembaknya nggak benar. Kualitasnya jelek sekali. Pelatihannya, mencong-mencong (miring-miring) nembaknya,” kata Boy Rafli.

Meskipun serangan-serangan yang muncul kerap lemah tapi Irjen Boy Rali menegaskan mereka tidak langsung menganggap kelompok tersebut lemah.

“Karena begitu ada yang ditangkap, ada lagi yang baru-baru muncul.”

Polantas rawan

Serangan terhadap Polantas bukanlah yang pertama kali terjadi. Yang paling terngiang adalah aksi teror di kawasan Sarinah, Thamrin, dimana teroris meledakkan diri di Polantas pusat perbelanjaan dan perkantoran tersebut, 14 Januari 2016 silam.

Dalam konferensi pers, Senin (10/04), Boy Rafli Amar menjelaskan bahwa semua Polantas rawan (diserang”, terutama di DKI jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Untuk melindungi anggotanya, Polri mengupayakan agar polisi yang berjaga di Polantas mengenakan rompi anti peluru.

“Tapi ya jumlahnya (rompi anti peluru) sebenarnya (tetap) tidak cukup. Anggota diminta untuk terus waspada. Kalau kita akhirnya nggak melayani gara-gara ini, ya lucu juga.” (BBC Indonesia)

LEAVE A REPLY