1.000 Pilot Nasional ‘Non-Job’ Bakal Diserap Oleh Maskapai Asal Negeri Panda

pilot-merpati-berpaling-ke-garuda-indonesiaJurnalPatroliNews Tanggerang –  Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Agus Santoso menyebutkan, ada sekitar 1.000 pilot di Indonesia yang belum mendapatkan kerja. Sebagai upaya mengurangi angka itu, pihaknya mengadakan pembicaraan singkat dengan delegasi Tiongkok di kawasan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Pembicaraan itu terkait kemungkinan pemberdayaan surplus pilot nasional untuk bekerja di maskapai Tiongkok. Senin (6/11).
“Tiongkok luas daerahnya dan banyak Air line, ada empat Airline terbang Tiongkok-Indonesia. Dengan adanya hubungan yang luas ini kami harapkan bahwa para pilot punya solusi dengan cara mereka di-endorse ke Airline Tiongkok sehingga stagnasi bisa dikurangi,” kata Agus.
Menurutnya, ada sekitar empat maskapai Negeri Tembok Raksasa yang terbang ke Indonesia, tepatnya ke dua kota, yaitu Jakarta dan Denpasar. Sedangkan dari Tiongkok, empat maskapai yang dimaksud melayani rute Tiongkok-Indonesia melalui total tujuh kota di sana.
“Pesawat Tiongkok banyak yang masuk ke Jakarta sehingga potensial. Market yang ada dari maskapai Tiongkok besar. Maka dari itu, kami harap pilot yang stuck itu untuk terbang di (maskapai) sana. Tiongkok pun menanggapinya dengan positif,” imbuh Agus.
Agus menjelaskan, adanya 1.000 pilot yang masih menganggur,  ini sebenarnya tak terduga karena tujuh tahun silam Indonesia masih kekurangan tenaga penerbang. Namun begitu, Kemenhub ke depannya bakal memastikan dengan sebaik mungkin soal kebutuhan sumber daya penerbang, sehingga masalah pilot yang menganggur dapat teratasi.
“Sebanyak 1.000 pilot non-job ini sejak dua tahun lalu. Ke depan kita harus well plan. Beberapa tahun lalu sebenarnya kita masih kekurangan pilot banyak sekali,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Muzaffar Ismail menjelaskan, setelah ada tanggapan positif dari pihak Tiongkok, maka langkah selanjutnya adalah membahas lebih detail perihal ketentuan-ketentuan yang wajib dipenuhi guna realisasikan kerja sama penyaluran pilot ke maskapai Tiongkok.
Muzaffar menyatakan, guna menekan angka pengangguran pilot, pihaknya sudah membuat sejumlah kebijakan, antara lain moratorium sekolah penerbang baru, kewajiban sekolah pilot untuk bekerja sama dengan maskapai sebelum membuka kelas baru, dan setiap sekolah penerbang wajib mengikuti prosedur yang sudah disepakati dalam menerima calon pilot.
“Kerja sama dengan maskapai itu untuk memastikan lulusannya nanti bisa langsung tersalurkan,” ungkapnya. (LUK)

LEAVE A REPLY