Direktur Eksekutif ‘Lima’ Indonesia Tanggapi Kritikan Wasekjen Partai Golkar Terhadap KPK

drJurnalPatroliNews-Jakarta – Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti menanggapi kritikan Wasekjen Partai Golkar Maman Abdurrahman terhadap KPK. Maman mengatakan ada kejanggalan yang terdapat di dalam KPK.

Ray membantah penilaian Maman. Ray berpendapat KPK saat ini sudah jauh lebih baik. Banyak kasus korupsi kelas kakap yang berani diungkap oleh lembaga antirasuah itu. Salah satunya kasus mega korupsi e-KTP yang melibatkan Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua DPR Setya Novanto.

“KPK yang sekarang ini jauh lebih maju menurut saya. Pertama, orang seperti Setya Novanto mereka tetapkan sebagai tersangka. Kalah di praperadilan, mereka tetapkan lagi,” kata Ray dalam acara diskusi Populi Center di Menteng, Jakarta ┬áPusat, Sabtu (11/11).

Keberanian KPK menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka di tengah adanya Pansus KPK oleh Komisi 3 DPR dinilainya merupakan salah satu bentuk kemajuan dari KPK. Termasuk Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang belakangan ini dilakukan KPK.

“Dan mereka menetapkan itu di tengah-tengah adanya Pansus KPK. Enam partai setidaknya, belum lagi OTT dan kasus yang menimpa saudara SN ini enggak bisa dibilang kasus kecil. Kasus e-KTP dengan nilai kerugian Rp 2,3 triliun. Sebenarnya persoalan ini sudah menjawab sekaligus atas kritikan terhadap KPK selama ini,” ujarnya.

Ray mengungkap dua hal kemajuan dari KPK yang saat ini sedang dijalankan. Dari dua hal itu, dia menilai salah satunya sudah dicapai oleh lembaga antirasuah tersebut. Pencapaian tersebut adalah dengan diungkapnya kasus proyek korupsi e-KTP.

“Pertama tidak pernah takut pada orang-orang besar. Kedua KPK tidak pernah mengungkap kasus yang nilainya mencapai triliunan dan yang kedua mereka tercapai,” katanya.

Menurutnya bukan hal gampang bagi KPK untuk mengungkap kasus besar seperti korupsi e-KTP. Selalu ada halangan yang dialami KPK selama mengungkap kasus tersebut. Salah satunya dengan hadirnya Pansus KPK.

“Dan ingat setiap mereka masuk ke pintu wilayah itu selalu ada tanda kutipnya huru hara terhadap KPK dan terakhir ini soal pansus dengan alasan yang menurut saya berubah-ubah,” ucap Ray. (Luk*)

LEAVE A REPLY