Membangun Embung Selamatkan Komunitas

Oleh : Haryono Suyono

haryono_suyonoJurnalPatroliNews – Dalam kampanye lalu Pak Jokowi menjanjikan Nawa Cita sebagai pedoman untuk membangun bangsa. Pada Nawa Cita yang pertama dijanjikan menghadirkan kembali negara guna melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Tentu rasa aman itu harus diartikan bukan sekedar dari gangguan musuh tetapi juga dari rasa khawatir apa yang bisa dimakan hari ini, esok dan masa depan yang akan datang bagi keluarga dan seluruh anggotanya. Karena Pak Jokowi telah menjadi Presiden, maka Nawa Cita itu perlu diwujudkan bukan hanya sebagai janji Presiden, tetapi oleh para pembantunya, para Menko, Menteri dan jajaran sampai ke daerah yang harus menterjemahkannya dalam program-program yang kalau dilaksanakan oleh pemerintah perlu disambut rakyat banyak agar membawa kemakmuran, menghilangkan kesenjangan dan secara menyeluruh membawa seluruh bangsa Indonesia lepas dari kemiskinan dan kelaparan.

Melalui tekad membangun dari pinggiran pedesaan, Nawa Cita utamanya juga ingin meningkatkan pendidikan anak bangsa di desa-desa pinggiran sehingga anak bangsa itu menjadi pintar dan Indonesia maju pesat. Dengan kecerdasan dan kerja keras diharapkan agar anak bangsa ini tidak lagi menjadi peminta-minta yang mengharapkan belas kasian, tetapi membangun ekonomi domestik mulai dari yang sederhana sampai akhirnya maju sehingga penduduk dan keluarganya menjadi sejahtera. Karena keluarga pedesaan sebagian besar petani, maka upaya peningkatan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar nasional dan internasional penduduk desa dimulai dari bidang pertanian.

Untuk memberi suasana yang makin kondusif dalam bidang ini selama satu dua tahun ini berbagai sarana dan infra struktur pedesaan dibangun dengan gegap gempita, antara lain sarana jalan dan waduk-waduk sederhana yang disebut embung. Waduk-daduk sederhana ini menampung air agar persediaan air untuk pertanian yang biasa melimpah pada musim hujan dapat disimpan, dihemat dan dipergunakan lebih lama sampai musim kering tiba. Lebih dari itu masyarakat desa juga diberikan dukungan untuk membeli bibit dan sarana pertanian lain melalui penyediaan dana desa yang setiap tahun jumlahnya makin membesar. Untuk merangsang agar penduduk desa makin sehat, selain dianjurkan menanam Kebun Bergizi di halaman rumah seperti dilakukan melalui kegiatan Posdaya di kampung-kampung,

Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dalam mengucurkan dana ke desa juga menganjurkan agar dibangun sarana olah raga. Pembangunan sarana olah raga ini bukan hanya agar para pemuda secara teratur berolah raga, tetapi sarana itu bisa menjadi pusat kegiatan umum yang menarik. Kegiatan itu bisa merupakan kegiatan pertandingan olah raga yang seperti peristiwa nasional, selalu dimulai dengan pertunjukan tarian massal. Dengan adanya tarian massal seperti itu, maka sekolah-sekolah yang ada di desa perlu mengadakan pelatihan bersama atau tukar menukar pelatih agar bisa mengadakan pertunjukan di lapangan yang luas secara bersama-sama, kompak, indah dan menarik.

Pertunjukkan bersama itu akan merangsang masyarakat sejak saat yang dini membangun budaya bangsa dari pedesaan. Sarana olah raga yang ada perlu dikembangkan menjadi sarana yang memiliki kegiatan rutin beraneka ragam tempat penduduk desa berkumpul, mengadakan kegiatan bersama dan menyajikan dagangannya atau bertukar antar anggota secara ekonomis karena mereka bisa menjadikan sarana olah raga itu sekaligus pasar produk yang ada di desa.

BUMDes yang dibentuk di desa bisa, apabila belum ada sarana yang menetap, mendirikan tempat menampung kegiatan ekonomi desa yang digelar di sekitar sarana olah raga itu. Sarana olah raga menjadi tempat penduduk desa berkumpul dan akhirnya di kelilingi oleh pasar yang bisa menjadi farum pertukaran produk penduduk desa yang marak dan menguntungkan masyarakat umum. Ini berarti bahwa sarana olah raga menjadi tempat publik yang luas dan secara tidak langsung menjadi ajang kegiatan ekonomi dan budaya desa secara reguler. Apabila telah menjadi sangat terkenal, maka sarana olah raga itu bisa menjadi sarana untuk mengundang penduduk desa lain, kecamatan lain atau bahkan bisa dijadikan pusat pertemuan penduduk kabupaten dan daerah lain yang lebih luas dan menguntungkan. BUMDes tidak perlu kecil hati karena di sekitar sarana olah raga yang pada awalnya hanya bisa dibuat warung-warung kecil beratap tidak tetap lama kelamaan akan menjadi warung tetap, rumah makan dan keperluan umum lainnya. Sarana olah raga yang pembiayaannya bisa dianggarkan dari dana desa akhirnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi desa yang sangat menjanjikan. Anak-anak muda dengan penuh kreatifitas bisa membangun sarana lainnya secara bertahap dengan motivasi ekonomi yang menjual produk-produk yang bahan bakunya berasal dari desa dan dikerjakan oleh penduduk desa.

Makin maju wilayah ekonomi desa itu dengan sendirinya masyarakat desa makin bekerja dan mendatangkan untung untuk keluarga desa yang mengangkatnya menjadi sejahtera secara lestari. Anak-anak yang semula masih kecil dan bersekolah di PAUD, pada gilirannya akan tumbuh menjadi besar sehingga akan menjadi anak dewasa yang tetap mencintai desanya apabila suasana desa berubah menjadi suasana kota. Oleh karena itu sarana olah raga yang dibangun dengan dana desa harus menjadi pusat kegiatan baru yang atraktif dan menarik generasi muda untuk makin cinta pada desanya. Anak-anak desa bisa meneruskan pendidikan menengah pada SMK yang banyak di bangun di desa sehingga mereka bisa mengolah kekayaan hayati yang melimpah di desa. Anak-anak SMK dan para elite desa harus segera mulai menyelidiki apa saja yang dapat diolah dengan cara besar-besaran sehingga dapat diangkat oleh para guru bersama siswa dan penduduk desa, guna menyongsong Gerakan Padat Karya yang akan dilakukan secara besar-besaran di desa guna mengangkat penduduk desa mengolah kekayaan alam dan kekhususan yang ada di desa menjadi komoditas laku jual yang menguntungkan keluarga desa yang masih tertinggal.

Pengolahan komoditas desa itu bisa menjadikan suatu desa memiliki produk unggulan yang menjadi idola keluarga desa. Generasi muda sangat terpanggil untuk mulai menyelidiki apa saja yang dapat diolah secara massal sehingga menghasilkan produk unggulan laku jual, menguntungkan dan membawa kesejahteraan bagi warga yang banyak.

LEAVE A REPLY