Kemhan Kaltim : Kaltim Hadapi 7 Ancaman Non Militer

kalJurnalPatroliNews-Samarinda – Kementerian Pertahanan (Kemhan) Provinsi Kaltim bekerjasama dengan Pemprov Kaltim yakni Kesbangpol Kaltim dan Universitas Mulawarman Samarinda menggelar Seminar Pemberdayaan Wilayah Pertahanan dengan tema Meningkatkan Semangat Bela Negara Dalam Rangka Mewujudkan Pertahanan Negara Yang Tangguh.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak melalui Sekretaris Daerah Kaltim Rusmadi menyampaikan, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan beragam suku dan agama yang tersebar di puluhan ribu pulau. Hal ini, tentu rentan terhadap gangguan dan ancaman, baik ancaman militer maupun non militer.

“Untuk ancaman militer jelas bentuknya berupa senjata, tetapi persoalan ancaman non militer ini tidak terlihat tetapi dampaknya lebih dahsyat dari ancaman militer sehingga membahayakan kedaulatan dan keutuhan bangsa,” ujarnya.

Indonesia masih menghadapi tantangan sebagai masalah pokok bangsa. Setidaknya ada 3 masalah pokok bangsa yang harus diselesaikan, pertama ancaman terhadap wibawa negara, kedua masih menghadapi persoalan kelemahan sendi perekonomian nasional., terakhir persoalan intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.

“Oleh karena itu, Pemprov Kaltim berharap melalui seminar ini akan memberikan pemahaman kita tentang bela negara, dan ini sangat tepat berkaitan dengan persoalan-persoalan yang selama ini serius masih dihadapi oleh bangsa,” katanya.

Sementara itu, Pejabat PTP Kemhan Kaltim Brigjen TNI Rukman Ahmad mengatakan,  kegiatan ini berlangsung di seluruh provinsi. Merupakan program di triwulan IV tindak lanjut dari hasil kajian ancaman non militer dan saat ini dilanjutkan dengan seminar.

“Kegiatan ini khusus untuk lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja. Tujuan utamanya adalah  bagaimana mensinergikan peningkatan pemahaman antarastakeholders terkait bahwa menghadapi ancamana non militer itu, kita  perlu menyiapkan diri,” ujarnya.

Hasil kajian PPTP Kemhan Kaltim bersama Tim Akademisi Unmul, menunjukkan bahwa 7 ancaman non militer yang aktual dan potensial terjadi di Kaltim yaitu, terorisme, narkoba, radikalisme, potensi konflik sosial termasuk kehadiran naker asing (POA), dampak kerusakan lingkungan hidup, masalah perbatasan, dan dampak negatif IT – media mainstream – Medsos.

Kegiatan ini diikuti sedikitnya 100 orang peserta, terdiri dari rektor dan dosen perwakilan universitas baik negeri maupun swasta di Kaltim, guru-guru BK dari 10 SMA,  Pejabat OPD dan staf Pemprov, Korem, Binda, Perbankan, BNN, serta Mahasiswa. (vb/rdg)

LEAVE A REPLY