Bank Indonesia Larang Bitcoin Mulai 2018

1-28JurnalPatroliNews JAKARTA – Bank Indonesia (BI) akan melarang transaksi pembayaran menggunakan bitcoin pada 2018. Larangan bitcoin ini akan diatur dalam peraturan Bank Indonesia (PBI) yang rencananya akan dikeluarkan dalam waktu dekat.

“Dalam konteks sistem pembayaran, bitcoin bukan alat pembayaran yang sah,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman Zainal (7/12).

Menurut Agusman, hal itu sejatinya sudah diatur dalam Peraturan Bank lndonesia tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran tahun 2016.

Pasal 34 beleid itu menyebut, “Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran dilarang: (a) melakukan pemrosesan transaksi pembayaran dengan mengunakan virtual currency.”

Bagian keterangannya disebutkan virtual currency adalah uang digital yang diterbitkan selain otoritas moneter yang diperoleh dengan cara mining. Antara lain Bitcoin, BlackCoin, Dash, Degecoin, Litecoin, Namecoin, Nxt, Peercoin, Primecoin, Ripple, dan Ven.

Bitcoin belum diatur secara spesifik oleh Bank Indonesia.

Saat ini, BI masih melakukan pengkajian secara mendalam terkait bitcoin, apakah akan diatur dalam PBI uang elektronik atau terpisah misalnya nanti masuk dalam PBI cryptocurrency.

BI mengimbau agar merchant tidak menerima bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di Indonesia. Jika masyarakat mengalami kerugian terkait bitcoin, regulator BI tidak akan bertanggung jawab terkait hal ini.

BI mengkawatirkan dan masih mencermati terkait risiko penggunaan bitcoin oleh masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara ikut menanggapi fenomena Bitcoin yang nilai tukarnya terus melonjak dan digunakan untuk transaksi. Mata uang virtual itu terus merangkak naik, hingga kemarin menembus USD 14.000 atau setara Rp 190 juta.

“Bank Indonesia larang (Bitcoin)? Saya dukung,” jawabnya dengan tegas di sela sosialisasi dan peresmian interoperabilitas sistem pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Aston Kuningan Suites, Jakarta, Kamis malam (7/12/2017).

Mirza menjelaskan, jika dilihat dari pergerakan harga, Bitcoin dan mata uang virtual memang cepat mengalami kenaikan dan penurunan.

“Kalau lihat harganya, cepat naik habis itu turun, terus naik lagi, yang terpenting sebagai sistem pembayaran itu harus diakui oleh otoritas moneter dan sistem pembayaran,” ujarnya.

Sejak awal tahun, pergerakan nilai tukar mata uang virtual ini sangat cepat dari ratusan dolar hingga akhir tahun menyentuh belasan ribu dolar. Peningkatan terjadi karena sudah ada sejumlah negara yang otoritasnya melegalkan mata uang digital ini sebagai alat pembayaran. (dai)

LEAVE A REPLY