Tonsea Berbudaya

a1JurnalPatroliNews – Budaya merupakan warisan leluhur dari nenek moyang kita yang tidak ternilai harganya. Budaya Indonesia sangat banyak dan beragam. Budaya itulah yang seharusnya kita jaga dan kita lestarikan ditengah perkembangan zaman yang semakin pesat dan globalisasi yang secara masif mempenetrasi kebudayaan luar yang tentu berdampak pada lunturnya nilai-nilai dan juga warisan budaya daerah, yang seharusnya menjadi kesadaran dan tanggung jawab seluruh anak bangsa dalam menjaga, merawat sekaligus mempertahankannya. Seiring pesatnya kemajuan dunia modern saat ini, tantangan terbesar seluruh anak bangsa dalam konteks budaya daerah masing-masing menjadi penting untuk didudukan dalam sebuah pemikiran yang sama, untuk tetap mewariskan nilai-nilai budaya daerah kepada anak cucu kita kelak. Adat dan budaya kita adalah cerminan betapa beraneka ragamnya bangsa ini dengan setiap potensi daerah yang dimilikinya, dan hendaknya mampu untuk mempertahankan eksistensinya di dunia modern saat ini. Mencintai keanekaragaman seni dan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan tanggung jawab kita semua sebagai warga bangsa. Keanekaragaman ini merupakan suatu kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan agar tidak dicuri atau ditiru oleh bangsa lain.

a2Berangkat dari berbagai pertimbangan dan juga konteks permasalahan masa kini, kelompok etnis Minahasa yang tergabung dalam perhimpunan warga Minahasa (Paimpuluan ne Tonsea)  merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam merawat, mempertahankan, menjaga serta melestarikan budaya Minahasa ditengah derasnya arus globalisasi dan tuntuan jaman. Ditemui dikediamannya, Ketua Umum Paimpuluan ne Tonsea Jorry S. Koloay mengatakan bahwa, budaya merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga serta perlu dilestarikan agar tidak hilang dan bisa menjadi warisan anak cucu kita kelak. Karenanya dimana pun kita berada disitulah kita harus mengenalkan dan mewariskan kebudayaan yang kita miliki, baik itu di sekolah, di lingkungan masyarakat, lingkungan  pekerjaan, atau pun di perantauan maupun di luar Negara Indonesia. Jorry menambahkan bahwa sebagai bentuk tanggungjawab dan sumbangsih putra dan putri daerah Minahasa yang ada di perantauan, pada tahun 2017 ini Paimpuluan ne Tonsea berkesempatan untuk mengadakan sebuah acara Festival Budaya Tonsea – Minahasa yang diharapkan mampu memberikan output bagi pemerintah dan juga masyarakat Minahasa atau Sulawesi Utara untuk bersama-sama bahu membahu memajukan sektor pariwisata dalam negeri dengan menitikberatkan pada pemahaman dan juga pelestarian budaya daerah Minahasa untuk dapat mengangkat citra daerah baik di kancah nasional maupun internasional.

a3Menyadari akan beratnya tantangan dalam menjaga dan melestarikan budaya Minahasa Paimpuluan ne Tonsea mengemas acara Fetstival ini dalam beberapa bagian yaitu Seminar Nasional dengan mengangkat tema “Siklus Kehidupan Orang Minahasa sub Etnis Tonsea” yang diselenggarakan di Anjungan Prov. Sulawesi Utara TMMI Jakarta, dan juga acara “Permainan Rakyat Tonsea – Minahasa” serta “Pagelaran Adat dan Seni Budaya Tonsea – Minahasa” yang dilaksanakan pada tanggal 24 November 2017 hingga 26 November 2017 di tiga lokasi yang berbeda di Jakarta.

Tanggungjawab serta kontribusi setiap putra dan putri asal Minahasa Sulawesi Utara dalam menyukseskan kegiatan ini, merupakan contoh positif yang hendaknya ditiru oleh setiap anak bangsa dalam menjaga dan merawat budaya daerahnya. “Mari Torang Jaga dan Lestarikan Torang Punya Adat Budaya” itulah slogan yang melekat dalam setiap sanubari warga Minahasa dan Sulawesi Utara dalam melestarikan adat dan budaya Tonsea Minahasa. Kewajiban kami dalam kegiatan ini adalah melahirkan sebuah kesadaran secara kolektif, tentang betapa pentingnya merawat dan mempertahankan budaya Tonsea – Minahasa, dimana setiap warga Minahasa menjadi pemegang kendali utama dalam mewarisi nilai – nilai adat dan budaya daerah, ujar Johny Politon ketua panitia kegiatan ini saat ditemui di sela-sela gladi resik persiapan acara festival ini.

a4Pria kelahiran Sulawesi Utara ini menambahkan, bahwa moment ini adalah moment berharga bagi setiap warga Minahasa baik yang ada di Sulawesi Utara maupun yang ada di perantauan untuk membuktikan diri dan mencatat sejarah, seberapa besar kontribusinya untuk mempertahankan budaya dan adat Minahasa di jaman modern ini. Kegiatan ini dapat bermanfaat bagi keberlanjutan pembangunan di Sulawesi Utara dan dapat dijadikan sebagai ajang promosi wisata baik itu wisata kuliner, seni budaya, adat istiadat Tonsea Minahasa serta dapat menjadi pijakan awal untuk go internasional dalam membuktikan diri kepada dunia bahwa Indonesia terdiri dari beragam adat dan budaya, dalam sebuah harmonisasi yang kini tetap terpatri dalam setiap sanubari insan masyarat Indonesia dalam karya dan pengabdiannya bagi bangsa, untuk terus berharmoni dalam perbedaan dan tetap berpegang teguh kepada Bhineka Tunggal Ika.

LEAVE A REPLY