Bos Ratu Prabu Sambangi Balai Kota, Bertemu Sandiaga Uno, Bakal Bangun LRT 400 KM.

IMG-489747890Jurnalpatrolinews – Jakarta, Presiden Direktur PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) B. Bur Maras kemarin menyambangi Balai Kota DKI Jakarta dan bertemu dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Dalam kesempatan itu, Ia menyampaikan rencananya membangun LRT dengan panjang lebih dari 400 kilometer (km) yang terbagi ke tiga fase.

Bur Maras mengungkapkan, kebutuhan investasi untuk pembangunan LRT sepanjang 400 km sekitar Rp 405 triliun.

“Keseluruhan 400 km lebih, karena Jakarta besar dan masih diperlukan lagi. Rp 405 triliun untuk 400 km lebih,” ujarnya, di kantornya Gedung Ratu Prabu 1, Jakarta Selatan, Jumat (5/1).

Bur Maras mengungkapkan, pembangunan LRT sepanjang 400 km terbagi ke dalam 3 fase. Fase pertama terdiri dari 9 jalur (line) mulai dari line A-I. Fase kedua terdiri dari line J-M dan fase ketiga terdiri dari line N-Q.

“Fase pertama secara teknisnya 9 line, semua dipasang serentak kita pasang,” katanya.

Dalam pertemuan kemarin bersama Sandiaga, Bur Maras menuturkan, bahwa Pemprov DKI Jakarta merestui pembangunan LRT ini. Bahkan Sandi meminta proyek ini bisa dimulai secepatnya.

“Pak Sandi anjurkan secepat mungkin mulai, karena enggak perlu dana pemerintah,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan alasan dibalik rencana membangun LRT. Sekitar 10 tahun lalu, Bur Maras membutuhkan waktu 3 jam untuk pergi dan pulang kantor dari Pondok Indah ke Sudirman.

“Dulu pergi kerja 1,5 jam, 1,5 jam pulang. 10 tahun lalu rumah Pondok Indah. Waktu ini banyak betul hilang,” ujar Bur Maras.

Melihat dari negara maju lainnya, transportasi massal juga menjadi tumpuan masyarakat untuk melakukan mobilitas.

Bur Maras menambahkan, rencana ini sudah diperhitungkan sejak 5 tahun lalu. Bahkan ia juga sudah membayar konsultan asal Amerika Serikat (AS) Bechtel Corporation untuk melakukan studi pembangunan LRT sepanjang 400 km tersebut.

Tak ketinggalan, ia juga menggunakan jasa konsultan ternama dari Eropa dan juga Australia.

“Semua US$ 10 juta untuk kajian,” tuturnya.

Ratu Prabu Energi yang merupakan perusahaan migas melirik investasi di sektor transportasi juga disebabkan industri hulu migas yang tengah lesu. Ia menyebut kebijakan terkait investasi hulu migas saat ini kurang bersahabat.

“Karena minyak mati kalau di Indonesia itu, mati total. Masih kurang menarik, orang bisa ke negara lain,” katanya. (**)

LEAVE A REPLY