Ini Kata Pengguna Jalan Soal Kemacetan Tanah Abang Yang Semakin Semrawut Dan Ruwet

IMG-53907689Jurnalpatrolinews – Jakarta, Carut marut arus lalulintas di beberapa ruas jalan kawasan Tanah Abang semakin menjadi. Setelah 19 hari penataan kawasan di depan Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemacetan justru makin meluas.

Dari pantauan di lapangan pada Selasa (9/1) pagi hingga siang hari, laju kendaraan tersendat di Jalan Aipda KS Tubun hingga Jalan Kebon Jati Raya yang terletak di depan Blok G dan Blok B Tanah Abang.

Penumpukan kendaraan sering terjadi di Jalan Kebon Jati Raya. Banyak angkutan kota (Angkot), bajaj dan Kopaja yang berhenti sembarangan untuk menunggu penumpang.

Puluhan petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang mengatur arus lalu lintas di sepanjang Jalan Kebon Jati Raya, seakan tak mampu mengurai kemacetan.

Beberapa pengendara mengeluhkan kemacetan di kawasan Tanah Abang yang semakin ruwet.

Pengendara ojek online, mengeluhkan kemacetan di sekitar Jalan Aipda KS Tubun hingga Jalan Kebon Jati Raya.

“Makin ruwet tuh, macetnya parah, kendaraan menumpuk di jalan ini (Jalan Kebon Jati),” ujar Amriudin saat memangkal di depan Blok G.

Ia yang biasanya melewati Jalan Jatibaru Raya terpaksa memutar jalan lebih jauh untuk mencapai tujuan.

“Biasanya kan lebih cepat lewat jalan depan stasiun (Jalan Jati Baru Raya), tapi ini muternya lebih jauh, ketemu macet pasti di depan Blok G,” ujarnya.

Amruddin juga mengeluhkan omzetnya menurun setelah Jalan Jati Baru Raya ditutup. Sebab, mayoritas pelanggannya adalah penumpang KRL yang turun di stasiun Tanah Abang.

Sebelum ditutup, dalam sehari Amruddin mengaku bisa mendapat 7-8 pesanan yang berasal dari penumpang KRL yang turun di Stasiun Tanah Abang. Saat ini, kata dia, pelanggan agak kesulitan untuk memesan ojek online secara langsung di depan stasiun.

“Iya imbasnya ke pendapatan, biasanya kan penumpang ordernya banyak di depan stasiun, ini kalau penumpang mau order enggak bisa jemput di situ lagi,” katanya.

Hal serupa juga dikeluhkan Sobirin, supir Kopaja T502 rute Tanah Abang-Kampung Melayu. Ia mengatakan, rekayasa lalu-lintas pasca penutupan Jalan Jati Baru Raya justru menyebabkan penumpukan kendaraan yang semakin parah di jam sibuk.

“Biasanya di jam 8 dan siang jam 12 sampai jam 2, pasti macet parah di situ, katanya sudah ditata tapi enggak mengefek juga,” keluhnya.

Selain menerima imbas kemacetan akibat penutupan Jalan Jati Baru Raya, kini Sobirin harus menerima kenyataan harus berputar arah lebih jauh ke Jembatan Tinggi dan KS Tubun Raya.

“Muternya jadi jauh, sudah benar jaraknya pendek lewat Jalan Jatibaru, malah disuruh muter, habis muter ketemu macet, susah dah,” ketusnya.

Dalam jangka pendek penataan kawasan Stasiun Tanah Abang, Pemprov DKI Jakarta akan memberlakukan uji coba rekayasa lalu lintas di sekitar Blok A Tanah Abang hari ini. Pengaturan lalu lintas akan diterapkan khususnya di Jalan KS Tubun 2 (simpang Jl. Katamso) dan simpang Blok A.

“Dilihat dari kinerja lalu lintas yang ada, bottleneck itu menumpuknya di Blok A. Karena Blok A ada dua putaran dan satu lampu merah,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah, Kamis (4/1).

Dishub akan membuka akses dari arah timur, Jalan Wahid Hasyim ke Blok A pada pukul 08.00-16.00 WIB.

Nantinya, pengaturan lalu lintas menjadi 2 fase. Fase pertama, Utara-Selatan dan Selatan-Utara. Fase kedua, dari Timur ke Utara dan akses langsung menuju Blok A.

Akan diterapkan larangan belok kanan dari arah utara ke Blok A. Pintu Blok A (Jalan Mas Mansyur) hanya untuk kendaraan masuk, tidak boleh keluar. Jadi, keluarnya di Blok B.

Kemudian pihak Dishub akan memasang separator atau pemisah lajur di simpang turunan Blok G. Juga pengaturan fasilitas penyeberangan di sepanjang Jalan Kebon Jati. (**)

LEAVE A REPLY