Menteri Rini, Kejar Target 150 Titik BBM Satu Harga, Hingga 2019, Baru Terealisasi 57. Presiden Masih Belum Puas

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno

JurnalPatroliNews-Sentani – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyatakan, pemerintah berupaya mengejar target program bahan bakar minyak (BBM) satu harga dengan target 150 titik hingga 2019. Sejak 2016 sampai saat ini program tersebut sudah terealisasi 57 daerah di wilayah terpencil, terluar, dan terdepan, termasuk di Papua dan Papua Barat.

“Saya diminta Presiden, bagaimana BUMN menciptakan BBM satu harga di Papua, karena harganya sangat mahal di Papua,” kata Rini saat ditemui di Sentani, Jayapura, Sabtu (13/1).

Hingga saat ini, 57 daerah sudah menikmati harga BBM sama, seperti di Jawa, yakni Rp 6.450 per liter untuk Premium dan Solar Rp 5.150 per liter. Target 2018, program BBM satu harga bisa menjangkau 52 lokasi.

“Jadi sekarang harga BBM di pegunungan tengah Papua misalnya sudah sama dengan di Jawa Rp 6.450 per liter (Premium). Dulunya Rp 70 ribu per liter,” Rini menuturkan.

Dari data Pertamina, penyaluran BBM satu harga untuk wilayah Papua dan Papua Barat mencapai 12 lokasi sampai dengan periode akhir November 2017. Sementara targetnya pada akhir 2017 menjangkau sebanyak 16 lokasi.

Inilah yang diakui Menteri Rini belum memuaskan Presiden Jokowi, karena belum seluruhnya daerah terpencil, terluar, dan terdepan di Papua dan Papua Barat menikmati BBM satu harga.

“Beliau (Jokowi) masih belum puas. Karena belum semua titik di Papua. Mudah-mudahan bisa diselesaikan di 2018,” tegas mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan itu.

Oleh karenanya, Rini mengaku, Pertamina bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain harus saling bersinergi untuk mewujudkan target 150 titik BBM satu harga pada 2019. Pasalnya, wilayah Papua dan Papua Barat termasuk yang paling sulit dalam menyalurkan BBM tersebut karena kondisi geografis pegunungan.

“Kalau Pertamina saja tidak akan mungkin, jadi sinergi dengan BUMN lain. Sebab, mau menyalurkan BBM satu harga harus ada pesawat khusus yang mendistribusikannya karena daerah ini paling sulit, pegunungan sehingga lalu lintas harus pakai (transportasi) udara,” terang Rini.

Di sisi lain, katanya, sinergi perusahaan pelat merah pun telah menurunkan harga semen di Papua secara signifikan. Sinergi ini melibatkan peran PT Pelni, PT Pelindo IV, Semen Tonasa, dan PT Semen Indonesia Tbk.

“Saya ke Puncak Jaya Mulia di Papua, harga semen waktu itu Rp 2 juta per sak, tapi akhirnya berkat sinergi BUMN tersebut, harga semen bisa turun di sana menjadi Rp 500 ribu per sak dan di Wamena jadi Rp 380 ribu per sak,” tukas Rini.(**)

LEAVE A REPLY