Polri Duga Buronan Kasus Kondensat Gunakan Identitas Lain

3163955143JurnalPatroliNews JAKARTA – Polri menduga buronan kasus korupsi penjualan kondensat yang melibatkan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Honggo Wendratmo, menggunakan identitas lain dalam persembunyiannya di luar negeri.

Sekretaris National Central Bureau (NCB) Interpol Polri Brigadir Jenderal Napoleon Bonaparte mengatakan, Honggo diduga menggunakan nama samaran untuk bepergian ke luar negeri atau menghindari kejaran polisi.

Napoleon berkata, Polri telah bekerja sama dengan Imigrasi di Singapura untuk menggunakan teknologi pengenalan wajah.

“Ada, ada nama Chinese dan alias-alias itu tetap jadi satu hal yang perlu kami sebarkan ke Singapura,” kata Napoleon di Markas Besar Polri, Kamis (9/2).

Diduga Honggo memiliki nama alias yang dia pakai untuk bepergian ke luar negeri atau menghindari kejaran polisi. Napoleon mengatakan, kepolisian bekerja sama dengan Imigrasi setempat untuk menggunakan teknologi pengenalan wajah.

“Penggabungan teknologi komunikasi antara Interpol dengan sistem informasi imigrasi yaitu BCM,” kata Napoleon.

Menurut dia, berdasarkan data perjalanan yang diperoleh pihaknya diketahui bahwa Honggo kerap mengunjungi sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik.

“Ada beberapa negara, terutama di Asia Pasifik. Terutama yang travel record-nya sering dikunjungi itu di Asia Pasifik,” ujar jenderal bintang satu itu.

Honggo terakhir kali diketahui berada di Singapura untuk operasi jantung. Namun, Honggo sudah keluar dari rumah sakit sejak 2016. Kepolisian sudah mendapatkan data Hinggo saat menjadi pasien sebagai informasi tambahan.

Honggo merupakan salah satu dari tiga tersangka dugaan korupsi dugaan korupsi penjualan kondensat oleh PT TPPI yang sudah diusut sejak 2015. Kejaksaan Agung telah menyatakan berkas perkara lengkap, namun terhambat melimpahkannya ke Kejaksaan Agung karena absennya Honggo.

Dalam kasus ini, polisi memisahkan berkas perkara menjadi dua. Berkas perkara pertama, dengan tersangka mantan Kepala BP Migas Raden Priyono serta mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono, sedangkan berkas perkara kedua milik Honggo. (dai)

LEAVE A REPLY