LAPAN: Puing Satelit Tiangong-1 Tidak Akan Jatuh ke Wilayah Indonesia

SatelitJurnalPatroliNews JAKARTA – Satelit Tiangong-1 milik China yang telah lepas kendali dari Stasiun Luar Angkasa diprediksi menghantam atmosfer Bumi hari Minggu (1/4/2018) malam. Namun, belum diketahui apakah serpihan satelit itu akan jatuh di wilayah Indonesia atau tidak.

Prediksi jatuhnya satelit itu disampaikan Space Debris Office dari European Space Agency’s (ESA) dan Aerospace Corp yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

“Tim puing-puing ruang angkasa di ESA telah menyesuaikan ramalan masuk kembali mereka (satelit Tiangong-1) selama 24 jam terakhir untuk mempertimbangkan kondisi aktivitas matahari yang rendah. Data baru yang diterima semalam memberi konfirmasi lebih lanjut bahwa jendela perkiraan bergerak ke depan pada 1 April,” bunyi pernyataan ESA dalam blog-nya.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa stasiun antariksa pertama milik China itu diprakirakan akan menghantam Bumi pada 1-2 April. Saat ini Tiangong-1 memasuki ketinggian 178 kilometer, di mana itu turun sembilan kilometer dari laporan kemarin.

“Penurunan orbit makin cepat. Saat ini ketinggian sekitar 178 kilometer (turun sembilan kilometer per hari),” ujar Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin dikutip dari akun Facebook-nya, Minggu (1/4).

Adapun konfirmasi selanjutnya akan disampaikan sekitar pukul 21.00 WIB, di situs dan akun media sosial resmi LAPAN.

Sebelumnya dikabarkan berdasarkan orbit, Tiangong-1 akan jatuh di suatu tempat di Bumi, di antara garis 43 derajat Lintang Utara dan 43 derajat Lintang Selatan. Demikian seperti dikutip dari news.com.au pada Kamis, 29 Maret 2018. Rentang perkiraan wilayah tersebut mencakup Amerika Selatan, Australia, sebagian wilayah pulau Papua, dan sebagian wilayah Pulau Utara di Selandia Baru.

LAPAN telah meminta masyarakat Indonesia tak khawatir, karena puing satelit itu diyakini tak akan jatuh ke wilayah Indonesia. Menurut LAPAN, material satelit Tiangong-1 China kemungkinan akan habis terbakar di atmosfer Bumi dan kalau pun masih tersisa, puingnya tak akan jatuh ke wilayah Indonesia.

Diketahui, pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dapat dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya.

(dai)

LEAVE A REPLY