INASGOC Fokus Pengadaan Alat Panitia Pertandingan, Bukan Kebutuhan Atlet

086888100_1511583828-asian_games_673x373JurnalPatroliNews JAKARTA – Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) berfokus memenuhi kebutuhan peralatan panitia. Tidak menyediakan alat-alat tanding untuk atlet.

Sekretaris Jenderal INASGOC, Eris Herryanto, menyampaikannya dalam World Press Briefing, Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (2/4/2018). Dia menegaskan kalau INASGOC tidak turut bertanggung jawab mendatangkan peralatan untuk atlet. Itu merupakan tugas federasi.

“Sebagai contoh atletik. Kami beli Desember tetapi Januari baru tiba. Tapi intinya pengadaan peralatan on progress,” kata Eris kepada pewarta.

Pernyataan Eris sekaligus menjawab keinginan PB PODSI (Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia) yang meminta agar panitia penyelenggara menyiapkan kebutuhan perahu untuk tim-tim peserta.

“INASGOC bertanggung jawab atas perlengkapan lomba untuk pertandingan, tapi tidak bertanggung jawab untuk peralatan tim pertandingan,” Eris menjelaskan.

“Sebagai contoh, balap sepeda. Yang menyiapkan sepeda tentu timnya kan? Karena, itu alatnya dia. Demikian pula dayung, apalagi sebelumnya saya juga diberitahu jika perahu harus disesuaikan dengan ukuran dudukan atletnya,” dia menambahkan.

Menanggapi itu, Wakil Ketua PODSI Budiman Setiawan, mengatakan belum ingin berkomentar.

“Saya tidak bisa menanggapi karena peralatan itu harusnya memang kita (tuan rumah) sediakan bagiyang tidak membawa peralatan,” kata Budiman, terpisah.

Menurut dia, khusus TBR, bahkan ada aturan yang mengatur soal peserta yang dilarang membawa perahu sendiri karena kewajiban panitia menyediakan.

“Sementara untuk rowing dan kano peserta boleh membawa peralatannya sendiri tapi penyelenggara harus menyiapkan bagi yang tidak membawa perahu,” dia menambahkan.

Tapi, penerapan berbeda diberikan kepada cabang olahraga modern pentathlon akan disediakan. Termasuk kuda.

Dalam Peraturan Kompetisi Berkuda Federasi Internasional Modern Pentathlon (UIPM), Bab 4.1.4, kuda perlombaan disediakan tuan rumah penyelenggara multievent. Satu kuda, bisa dipakai satu hingga tiga atlet, bergantung ketersediaan penyelenggara.

Peraturan itu juga diterapkan saat Incheon menjadi tuan rumah Asian Games 2014. Tak hanya itu, Rio de Janeiro sebagai penyelenggara Olimpiade 2016 juga melakukan hal serupa.

“Itu memang ada aturannya dan itu kami lakukan termasuk kudanya. Kami sudah siapkan sekitar 8 kuda. Itu kami siapkan karena harus ada di sana dan standar,” kata Eris.

“Untuk cabang-cabang tertentu memang kami persiapkan,” dia menambahkan.

SUMBER: DETIK

LEAVE A REPLY