‘Ultah Kopassus ke-66’ Pembelaan Benny Jadi Petaka Karirnya di RPAKD

bennyJurnalPatroliNews – Jakarta – Menjelang akhir 1964, tercetus gagasan untuk memberhentikan para anggota RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) yang kini dikenal dengan nama Kopassus. Pembahasan tentang isu ini dipimpin langsung oleh Kolonel Moeng Parhadimuljo, perwira komando yang amat disegani dan keras wataknya.

Salah satu nama yang dibahas untuk dikeluarkan adalah Lettu Agus Hernoto dari Batalyon I RPKAD pimpinan Mayor Benny Moerdani. Agus kehilangan satu kaki dalam tugas membebaskan Irian. Pasukannya dikepung Marinir Belanda tapi dia nekad melawan. Seluruh anak buahnya gugur, begitu juga beberapa Marinir tewas. Agus luka parah dan kakinya tertembak. Dia diringkus Belanda setelah kehabisan peluru. Marinir Belanda menahan dan mengobati Agus. Karena kakinya sudah membusuk dan dipenuhi belatung, lalu diamputasi. Dia baru dibebaskan setelah terjadi gencatan senjata.

Menilik kiprah perjuangan Agus, sebagai atasan langsung Benny menolak rencana mengeluarkan Agus. “Dia korban pertempuran yang harus dijadikan teladan. Dia itu baret merah sejati, dan lebih pantas memakai baret merah daripada diantara kita, perwira yang enggak tahu apa-apa, langsung dari kesatuan lain dipindah ke RPKAD lantas disuruh pakai baret merah…” papar Benny seperti ditulis Julius Pour dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis.

Pembelaan keras Benny terhadap anak buahnya berbuah petaka bagi karirnya di RPAKD. Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Achmad Yani yang menerima laporan tentang sikap Benny, murka. Dalam pertemuan empat mata, tak ada lagi senyum dan keramahan yang ditampilkan terhadap anak buah kesayangannya itu. Tanpa melakukan konfirmasi Yani langsung memutuskan Benny bersalah karena dianggap bersikap tak etis telah mencampuri urusan atasan. “Sudah,…lapor ke Mas Harto sana.”

Benny terperanjat. Perintah lisan tersebut artinya dia harus keluar dari RPKAD dan pindah ke Kostrad di bawah Mayjen Soeharto. Pada 6 Januari 1965, Benny resmi menyerahkan jabatan Komandan Batalyon I RPKAD kepada Mayor CI Santoso. Sejak itu, hingga 20 puluh tahun kemudian Benny Moerdani tak lagi sudi mengenakan Baret Merah. Dia sangat kecewa dengan keputusan sepihak Yani.

Dia terpaksa kembali bersedia mengenakan Baret Merah pada 1985. Kala itu, sebagai Panglima ABRI dia akan memberikan gelar Warga Kehormatan Baret Merah kepada Yang Dipertuan Agung Malaysia Sultan Iskandar. Itu pun, Benny sempat melemparkan baret yang diserahkan oleh Danjen Kopassus Sintong Hamonangan Panjaitan.

Sintong tentu tersinggung dengan sikap sang Jenderal. “Pak Benny tidak dapat dipisahkan dengan Korps Baret Merah. Bapak dikenal sebagai orang pertama Korps Baret Merah. Jadi aneh, kalau bapak tidak berkenan memakai Baret Merah,” kata Sintong membujuk dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando karya Hendro Subroto.

Benny tak menjawab. Tapi beberapa saat menjelang acara dimulai, dia berteriak memanggil ajudannya, Lettu Tono. “Ton, mana Baret Merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini,” ujarnya ke arah Sintong.

(**/Luk-DD)

LEAVE A REPLY