IUPK Diperpanjang, Freeport: Negosiasi Dengan Pemerintah Diharapkan Selesai Secepatnya

JurnalPatroliNews JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memperpanjang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk PT Freeport Indonesia hingga 30 Agustus 2018. Sejatinya, IUPK Sementara Freeport habis per 30 Juli 2018.

Namun kini peluang perpanjangan IUPK tersebut masih terbuka. Alasannya, hingga kini empat poin yang dinegosiasikan antara Pemerintah dan Freeport termasuk divestasi saham masih belum selesai.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono pun berharap negosiasi dengan PT Freeport Indonesia bisa selesai sebelum 30 Agustus 2018.

“(Potensi perpanjangan IUPK) Kami liat nanti ya. Semoga Agustus negosiasi selesai,” kata Bambang ditemui di Menara Batavia, Jakarta, Rabu (8/8).

Ditemui di tempat yang sama, Direktur Eksekutif PT Freeport Indonesia, Tony Wenas pun berharap negosiasi dengan Pemerintah Indonesia dapat selesai pada semester II 2018 ini.

“Paruh kedua inilah, lebih cepat lebih bagus. Secepatnya, saya juga tidak bisa pastikan kapan akan selesai. Tapi secepatnya lah,” ujar Tony.

Juru Bicara Freeport, Riza Pratama menjelaskan, salah satu poin yang saat ini sedang dibahas juga dalam proses negosiasi adalah pembangunan smelter. Riza menjelaskan, rencana pembangunan smelter Freeport menunggu keputusan pemerintah.

“Kalau semuanya sepakat, langsung akan kita bangun,” kata Riza.

Riza menjelaskan rencananya akan ada dua smelter yang akan dibangun oleh Freeport. Smelter pertama yang selama ini sudah direncanakan oleh Freeport, di Gresik. Smelter ini, kata Riza bisa menampung 40 persen dari produk Tambang Grasberg.

Untuk smelter kedua, kata Riza, akan menampung 60 persen dari produksi tambang Grasberg. Hanya saja, kata Riza, pembangunan dimana smlter kedua ini masih menjadi pembahasan antara Freeport dan Pemerintah Indonesia. “Amman mineral sumbawa, itu satu opsi yang masih kita pelajari juga. Tapi ada beberapa opsi memang,” ujar Riza.

Riza menjelaskan, untuk bisa membangun smelter ini, Freeport perlu merogoh kocek sebesar 2,5 miliar dolar AS. Proyek pembangunan ini kata Riza akan selesai selama lima sampai enam tahun ke depan.

PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Freeport McMoran Inc, dan Rio Tinto telah melakukan penandatanganan pokok-pokok perjanjian terkait penjualan saham Freeport dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia ke Inalum. Kepemilikan Inalum di PTFI setelah penjualan saham dan hak tersebut menjadi sebesar 51 persen dari semula 9,36 persen. (dai)

LEAVE A REPLY

3 × 4 =