KPK Sita Handphone Sofyan Basir Terkait Kasus Korupsi Proyek PLTU Riau-1

JurnalPatroliNews JAKARTA – Dugaan keterlibatan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN), Sofyan Basir, dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan proyek PLTU Riau-1 semakin menguat. Handphone milik mantan Dirut BRI tersebut menjadi salah satu bukti yang disita oleh penyidik KPK.

Penyitaan itu dilakukan terkait penyidikan kasus dugaan suap proyek senilai USD 900 juta itu. Penyidik menyita handphone tersebut saat menggeledah kediaman Sofyan pada Minggu (15/7) lalu.

“Saat penggeledahan dilakukan pertengahan Juli di rumah Dirut PLN, salah satu bukti elektronik yang disita saat itu adalah alat komunikasi yang digunakan Dirut PLN,” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah di kantornya, Rabu (8/8).

Saat ini, menurut Febri, komunikasi yang dilakukan Sofyan dicek.

“(Isi dari ponsel) itu belum bisa saya sampaikan, tapi pasti penyidik akan mendalami ada atau tidak komunikasi antara pihak-pihak (dalam kasus) tersebut,” imbuh Febri.

Dalam perkara ini, tersangka yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih, diduga menerima suap dari Johannes B Kotjo. KPK menduga Eni menerima keseluruhan Rp 4,5 miliar dari Johannes untuk memuluskan proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1. Johannes merupakan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited.

KPK telah mengamankan Rp 500 juta yang diduga sebagai pemberian keempat kepada Eni. Pemberian pertama kepada Eni diduga dilakukan pada Desember 2017 sebesar Rp 2 miliar, pemberian kedua pada Maret 2018 sebesar Rp 2 miliar, dan pemberian ketiga pada 8 Juni 2018 sebesar Rp 300 juta. Ada dugaan pemberian tersebut dilakukan melalui staf dan keluarga Eni.

Terkait kasus ini, KPK juga telah memeriksa sejumlah saksi seperti Mensos Idrus Marham dan Sofyan Basir. Penggeledahan juga dilakukan di sejumlah lokasi, mulai dari rumah Sofyan hingga kantor pusat PLN. (dai)

LEAVE A REPLY

fifteen − 6 =