BI Pastikan Likuiditas Cukup, Tak Ada Alasan Perbankan Naikan Bunga Kredit

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) berbincang dengan Deputi Gubernur Rosmaya Hadi saat memberikan keterangan pers di kantor pusat BI, Jakarta, Jumat (8/6). BI menyatakan inflasi bulan Juni bakal menyentuh 0,22 persen (month to month) dan 2,75 persen (year on year), sementara itu hingga 8 Juni siang penukaran uang masyarakat untuk lebaran telah mencapai Rp187,8 triliun atau 99,8 persen dari jumlah uang tunai sebesar Rp188,2 triliun yang disediakan BI untuk kebutuhan Idulfitri. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/18.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) berbincang dengan Deputi Gubernur Rosmaya Hadi saat memberikan keterangan pers di kantor pusat BI, Jakarta, Jumat (8/6). BI menyatakan inflasi bulan Juni bakal menyentuh 0,22 persen (month to month) dan 2,75 persen (year on year), sementara itu hingga 8 Juni siang penukaran uang masyarakat untuk lebaran telah mencapai Rp187,8 triliun atau 99,8 persen dari jumlah uang tunai sebesar Rp188,2 triliun yang disediakan BI untuk kebutuhan Idulfitri. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/18.

JurnalPatroliNews JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tidak ingin industri bank umum menggunakan alasan likuiditas ketat untuk menaikkan bunga kredit. Pasalnya, BI yakin betul akan menjaga tingkat likuiditas perbankan.

“Bank Indonesia akan memastikan likuiditas itu lebih dari cukup. Bukan hanya cukup, tapi lebih dari cukup,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di kantornya, Jumat (8/6).

Menurut Perry, alasan likuiditas yang mengetat pada saat ini hanya bersifat sementara (temporer). Lantaran memasuki libur Lebaran 2018, masyarakat tentu akan melakukan penarikan dana yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan.

“Maka dengan likuiditas itu, tidak ada alasan bagi perbankan untuk naikkan suku bunga,” katanya.

Keputusan bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) mulai mendorong bank melakukan persiapan untuk menyesuaikan suku bunga KPR.

Salah satu bank yang telah menaikkan suku bunga KPR adalah Bank OCBC NISP sebesar 0,25%-0,5%. Dengan demikian, rata-rata suku bunga KPR di OCBC NISP sekitar 7%.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebutkan penempatan dana perbankan di instrumen giro BI mencapai Rp 556 triliun pada awal 2018. Namun jumlah tersebut terus menurun hingga Rp 380 triliun pada April 2018.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menilai, saat ini, kondisi likuiditas perbankan memang relatif terjaga. Namun, setelah BI menaikkan suku bunga acuan, terdapat kecenderungan untuk mengetat karena tren kenaikan suku bunga simpanan sudah terlihat.

“Tren suku bunga simpanan mulai menunjukkan tren kenaikan dan berpotensi untuk meningkat merespons kenaikan suku bunga acuan,” ucapnya, beberapa waktu lalu.

Selain itu, rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio) perbankan pada April 2018 mencapai 89,86 persen. Angka itu meningkat dari Maret 2018, yang mencapai 89,61 persen. (dai)

LEAVE A REPLY