Chevron, Pertamina dan Sinopec Tidak Berminat Perpanjang Kontrak di Blok Makassar Strait

6102509a-6597-4d8e-be2d-2a5b53b8773d_169JurnalPatroliNews JAKARTA – Blok Makassar Strait bagian dari proyek pengembangan minyak dan gas bumi laut dalam (Indonesian Deep water Development/IDD), ditinggalkan pengelolanya. Tiga perusahaan yang mengelola Makassar Strait yaitu Chevron Pacific Indonesia dengan porsi partisipasi 72 persen, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) 10 persen dan Sinopec 18 persen, kompak mundur dari Blok Makassar Strait.

“Jadi di Makassar Strait itu kan ada Chevron, ada Pertamina, ada Sinopec, tiga-tiganya sudah kita tanya, tidak minat,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (11/7).

Pemerintah pun memutuskan bakal melelang WK yang kontraknya habis pada 2020.

“Makassar Strait diputuskan untuk diterminasi akan dilelang,” tuturnya.

Namun, kata Djoko, setelah dinilai ketiga perusahaan tersebut, ternyata proyek Blok Makassar dianggap kurang ekonomis.

“Tiga-tiganya udah kita tanya, enggak minat. Secara ekonomis jadi kita lelang, mungkin ada yang berminat karena beberapa KKKS lain udah punya fasilitas di situ jadi lebih ekonomis,” tuturnya.

Dia melanjutkan, mundurnya Chevron sebagai kontraktor Blok Makassar otomatis memutuskan kelanjutan investasi pada IDD. Asal tahu saja, di dalam Blok Makassar Srait terdapat Blok Rapak, Ganal dan IDD.

“Itu kan dia (IDD) satu blok dengan Makassar, Rapak dan Ganal. Kalau ini (Makassar Strait) yang terjauh nih, kalau digabung keekonomian NPV dari yang dua (Rapak dan Ganal) ini jadi berkurang karena ini sangat marjinal. Supaya tidak berkurang NPV ini dilepas supaya keduanya ekonomis,” tuturnya.

“Jadi yang diambil Chevron sekarang yang eksisting, belum habis kontraknya,” tambahnya.

Djoko menargetkan dalam tiga bulan kedepan sudah didapat pemenang lelangnya.

“Secepatnya akan dilelang, dalam 3 bulan ini sudah selesai,” tuturnya.

Djoko mengungkapkan, Makassar Strait dilepas dari Proyek IDD karena agar tidak mengganggu blok lain yang masuk dalam IDD. Sebab, jika tetap digabung, nilai keuntungannya akan jauh lebih kecil.

“Kalau digabung keekonomian NPV (Net Present Value) dari yang dua (rapak ganal) ini jadi berkurang karena ini kan sangat marjinal (MS). Kalau dilepas untungnya lebih gede,” tandasnya. (dai)

LEAVE A REPLY

nineteen − 12 =