Gubernur BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Masih Bisa Menguat

2018_02_24-09_00_08_4d6542a499e1fb486049ece03a5ee94a_960x640_thumbJurnalPatroliNews JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah masih bisa menguat terhadap dolar AS. Perry mengatakan, posisi rupiah saat ini masih terlalu lemah dibandingkan nilai fundamentalnya.

“Nilai tukar yang ada sekarang masih terlalu lemah kalau dibandingkan dengan fundamentalnya sehingga dari sisi fundamentalnya mestinya ada ruang untuk lebih apresiatif lagi,” kata Perry di kompleks parlemen, Jakarta pada Rabu (11/7).

Perry menilai bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bisa menguat. Ini dikarenakan mata uang negeri Paman Sam kemahalan atau over valued.

“Artinya sebenarnya rupiah itu masih ada potensi untuk menguat,” tambah dia.

Nilai rupiah yang saat ini masih melemah terhadap dolar AS dikarenakan faktor eksternal. Namun, dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya depresiasi mata uang garuda lebih rendah dibandingkan India, Filipina, bahkan dengan Brasil, Korea Selatan, dan Turki.

“Ini yang kami tegaskan bahwa nilai tukar itu relatif terkendali dan kami nyatakan kembali komitmen BI untuk terus jaga stabilitas ekonomi khususnya stabilitas nilai tukar,” papar dia.

Ia mengatakan, kenaikan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate hingga mencapai level 5,25 persen bertujuan untuk meningkatkan daya saing pasar keuangan Indonesia.

“Alhamdulillah, dalam beberapa waktu terakhir ini terjadi arus masuk asing ke SBN (Surat Berharga Negara) dan itu menjadi satu poin positif yang memang mendorong stabilitas nilai tukar,” kata Perry.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Perry menuturkan bahwa BI akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam membuat bauran kebijakan, antara fiskal, reformasi struktural, dan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Koordinasi terus dilakukan untuk tidak hanya memperkuat dari transaksi berjalan kita tapi juga mendorong pertumbuhan dan itu menjadi satu poin penting,” ungkap dia.

Tidak hanya di situ, lanjut Perry, otoritas moneter nasional juga akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ekonomi dengan berbagai instrumen.

“Dengan berbagai instrumen-instrumen yang ada yang kemarin sudah kami keluarkan dan akan terus kita optimalkan ke depan,” jelas dia.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan, pelemahan rupiah harus dilihat dari benchmark terhadap negara lain maupun terhadap dolar AS sendiri. Menurut Sri, setiap saat ada pemicu pergerakan rupiah.

“Karena ini setiap hari ada pemicunya, apakah hari ini Presiden Trump bilang ini, kemudian policy-nya terhadap RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Jadi, ini akan terus dinamis yang akan harus kita terus respons, tidak harian, tapi kita jaga dari sisi yang disebut jangka menengah panjang,” kata Sri Mulyani setelah dipanggil Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (25/6). (dai)

LEAVE A REPLY

eighteen + 13 =