Menhan Ryamizard: 800 Orang Asia Tenggara Gabung ISIS, 400 Diantaranya Orang Indonesia

unhan_20180711_150940JurnalPatroliNews JAKARTA – Universitas Pertahanan (Unhan) menggelar seminar Indonesia International Defense Science Seminar (IIDSS) 2018 dengan tema ‘Strengthening Defense Diplomacy to Address Common Security Challenges di Jakarta Pusat, Rabu (11/7).

Seminar dibuka Menko Polhukam Wiranto dan dihadiri Menhan Ryamizard Ryacudu dan Rektor Unhan Letjen Yoedhi Swastanto.

Dalam pemaparannya, Menhan Ryamizard menyampaikan tentang ancaman nyata yang sedang terjadi di Indonesia. Ryamizard menyoroti tentang ancaman terorisme generasi ketiga dan radikalisme yang marak terjadi di Indonesia perlu disikapi secara serius.

Hal itu lantaran banyak warga Indonesia yang bersimpati dengan gerakan Alqaeda dan bahkan ikut ISIS.

Berdasarkan data intelijen Kemenhan, tercatat 31.500 orang dari luar negeri yang gabung ISIS untuk berjuang di Suriah dan Irak. Adapun 800 orang berasal dari Asia Tenggara dan 400 orang dari Indonesia bergabung ISIS.

Salah satu upaya membendung aksi terorisme dari luar, pihaknya melakukan kerja sama trilateral dengan Malaysia dan Filipina untuk berpatroli di Laut Sulu. Langkah itu dilakukan agar eks pejuang ISIS yang kembali ke Asia Tenggara tidak bisa leluasa memgembangkan jaringannya.

“Ini untuk memperkuat deteksi dini potensi ancaman ISIS di kawasan,” kata Ryamizard.

Selain ancaman dari luar, seperti klaim Laut Cina Selatan, sambung Ryamizard, Indonesia hendaknya juga perlu mewaspadai masalah yang timbul dari dalam. Di antaranya, terorisme, radikalisme, separatisme, dan bencana alam.

Dosen Universitas Pertahanan, Susaningtyas Kertopati mengatakan bahwa IIDSS 2018 adalah forum ilmiah yang diakui masyarakat dunia.

Menurutnya, dibandingkan penyelenggaraan IIDSS tahun lalu, maka para pembicara internasional dan peserta seminar lebih banyak dan lebih beragam latar belakang kepakarannya menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

“Topik-topik seminar juga sangat khas dari sudut pandang pertahanan negara dan keamanan nasional sebagai cakupan disiplin ilmu pertahanan,” kata Susaningtyas dalam keterangan tertulisnya.

Wanita yang akrab disapa Nuning itu menuturkan, topik “Weapon of Mass Destruction” sangat relevan dengan situasi terkini di Timur Tengah dan Semenanjung Korea.

Nuning juga mengatakan pada pembahasan topik “Terrorism and Separatism” banyak pakar sangat tepat sebagai masukan kepada pemerintah RI. Bahkan Topik “Media and Information Warfare” sangat tepat dibahas di tengah maraknya fake news, hate speech dan lain-lainnya yang sangat mengganggu masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

“Besar harapan aparat keamanan dan kalangan akademisi dapat berinteraksi selama seminar tersebut berlangsung sebagai salah satu wujud persatuan dan kesatuan,” ujar Nuning.

Sementara itu, Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan, Laksamana Muda TNI, DR Amarulla Octavian sebagai Ketua IIDSS menjelaskan seminar bertujuan untuk menggali pemikiran-pemikiran baru dari para ilmuwan dan pelaksanaan dalam mencermati tatanan global sebagai alternatif pengelolaan tatanan yang lebih adil untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan global.

“Sedangkan sasaran seminar ada tiga, yakni sukses akademik, sukses prestasi dan sukses penyelenggaraan, berfokus pada pencapaian pengakuan ilmu pertahanan sebagai disiplin ilmu setara dengan rumpun ilmu lainnya secara nasional dan internasional sekaligus diakuinya kemampuan Unhan menyelenggarakan event internasional yang memiliki standar tinggi,” kata Amarulla.

Sebanyak 24 pembicara yang terdiri dari pakar-pakar dari dalam negeri, luar negeri dan organisasi internasional hadir dalam seminar IIDSS yang akan membahas 6 topik utama seminar.

Topik-topik seminar tersebut terbagi menjadi 12 pembahasan dari perspektif Studi Pertahanan (Defense Studies) dan 12 pembahasan dari perspektif Teknologi Pertahanan (Defense Technologies).

Selain 7 pakar dari Indonesia, ada 14 pakar dari luar negeri dan 3 dari organisasi internasional, termasuk dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan dari Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Enam dosen Unhan juga hadir sebagai moderator sesi-sesi diskusi.

Hasil-hasil diskusi dalam seminar IIDSS akan dirangkum dalam proceeding terakreditasi nasional dan/atau bereputasi internasional sebagai masukan kepada pemerintah Indonesia dan kepada masyarakat dunia.

Seminar IIDSS kali ini diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai perwakilan dari negara sahabat, universitas pertahanan dari sejumah negara seperti dari Australia, Jepang, dan Korea Selatan, perwakilan dari 24 universitas di Indonesia, lembaga think tank, Mabes ketiga angkatan dan Mabes Polri. (dai)

 

 

LEAVE A REPLY

2 × two =