Kepemimpinan Kak Kingkin Yang Bersahaja Dan Membumi

kingkin dan ruly okPertemuan pertama saya dengan mantan Kadispotmar (Kepala Dinas Pembinaan Potensi Maritim) Mabes AL, Laksamana Muda (Purn) Kingkin Suroso, SE, sekitar empat tahun yang lalu di sebuah tempat di bilangan Senayan Jakarta Selatan, memberi impresi yang cukup tinggi untuk saya. Ketika itu beliau masih menjabat sebagai Kepala Dinas, dan dari beliau saya melihat gambaran seorang Perwira Tinggi bintang satu TNI AL yang begitu santun, tenang dan tampak zero emotion dari raut wajahnya, memberikan kesan tersendiri, dan memberi rasa nyaman bagi orang yang pertama kenal dengannya.

Pertemuan waktu itu bukanlah pertemuan yang pertama dan terakhir, karena minggu berikutnya saya sudah berada dalam satu lingkup tugas dengan beliau di Dispotmar Mabes AL Cilangkap. Dalam masa orientasi saya dalam lingkungan tersebut, Kak Kingkin demikian panggilan akrab beliau sebagai Kapin Saka Pramuka Bahari, menanamkan pemikiran-pemikiran prinsip mengenai visi kemaritiman, khususnya masalah-masalah yang berkaitan dengan peranan TNI AL dengan masyarakat di sepanjang pesisir wilayah NKRI.

Serangkaian perjalan tugas dan survey yang berkaitan dengan koordinasi TNI AL dengan lembaga lain seperti Kementerian, BUMN dan lain sebagainya yang mengarah kepada pambangunan karakter bangsa khususnya pemuda, merupakan materi yang banyak memberi pengayaan intelektual maupun spiritual bagi saya secara pribadi, karena dalam setiap misi yang diserahkan kepada saya, Kak Kingkin selalu memberikan kepercayaan penuh dan selalu memberi kebebasan kepada saya untuk melalukan aksi berdasarkan garis-garis batas yang talah disepakati di atas meja secara bertanggung jawab.

Berbagai rencana program kerjasama antara TNI AL dengan lembaga lain, seperti misalnya dengan Pusat Pengembangan Wilayah Pesisir ITB di Bandung, Kak Kingkin memercayakan saya untuk mendesain progamnya hingga membahas masalah teknis. Meskipun hingga hari ini belum terealisasi dalam bentuk program kegiatan, pihak ITB masih terus menggodok dan merancang pola seperti apa yang bisa diterapkan dalam kerjasama tersebut dalam mengembangkan wilayah pesisir NKRI agar menjadi daerah yang bisa menghasilkan bagi masyarakatnya.

Kemudian dalam beberapa kegiatan yang melibatkan saya pada saat mendampingi beliau di kegiatan-kegiatan internal TNI AL, beliau sering melibatkan saya dan mempersilahkan saya memberikan masukan-masukan dalam forum, seperti misalnya dalam kegiatan Sail Morotai yang lalu, dari semenjak rapat koordinasi Kementerian dan TNI, hingga koordinasi di atas kapal yang mambawa pemuda-pemudi se Indonesia untuk berkoordinasi dalam perencanaan perjalanan kami bersama Komandan KRI, dan Komandan Satuan Tugas Pelayaran. Bahkan dialog-dialog strategis dengan para menteri dan pejabat negara yang hadir di Morotai, beliau memercayakan saya mewakili Dispotmar Mabes AL dalam pertemuan-pertemuan insidentil yang terpisah.

Ada hal penting yang sangat menarik dan menjadi point of interest dalam kepemimpinan beliau, yaitu banyak memasukkan prinsip-prinsip lokal dalam pola kerjanya. Kebersahajaan yang selalu dipegang oleh Kak Kingkin merupakan strong point dalam gaya kepemipinannya. Sikap santun namun tegas, berkata tidak tanpa kata tidak, tidak menyakiti hati orang lain, dan realistis merupakan gaya kepemimpinan beliau yang sangat kuat. Hal ini ditunjukkan ketika kegiatan dalam pembinaan Pramuka Saka Bahari oleh Dispotmar, kak Kingkin selalu menjadi pemimpin yang hangat dan ramah terhadap adik-adiknya. Selalu guyub dan apa adanya tanpa menunjukkan sikap sebagai seorang perwira tinggi TNI ataupun seorang yang mempunyai kedudukan dalam strata sosial.

Ketika kami di lapangan, Kak Kingkin selalu bersikap sangat fleksibel. Makan seadanya bersama dengan dengan anggota lain, dengan gesit dan terampil memanjat maupun menuruni tangga kapal menuju sea rider yang ketika itu ombak cukup tinggi menerpa pada saat laut Maluku terkena imbas letusan Gunung Gamalama di Pulau Ternate, sehingga menghasilkan gelombang hampir setinggi enam meter. Ketika berada di pulau, mobil yang disediakan oleh aparat setempatpun ditolaknya, karena memilih bergabung bersama adik-adik Pramuka bersama-sama naik truk milik Korps Marinir yang sejak pemberangkatan sudah ada di KRI Surabaya yang kami pergunakan menuju Morotai.

Selain jiwa Marinir yang mewarnai sikap beliau, nilai spiritual lokal dalam kepemimpinan Kak Kingkin begitu terlihat, sehingga tegasnya beliau dalam memimpin, terbalut nilai-nilai kesantunan, kebersahajaan, memanusiakan manusia, dan yang penting dalam berpikir dan bertindak, Kak Kingkin mengedepankan prinsip-prinsip yang membumi, sehingga mudah dijangkau dan dijalankan. Gaya kepemimpinan Kak Kingkin ini merupakan salah satu gaya kepemimpinan berbasis kearifan lokal, yang tentu saja sangat fleksibel dan mudah diterima di setiap pelosok masyarakat, karena di seluruh wilayah Nusantara ini ada benang merah yang sama jika satu sama lainnya saling dipertautkan. Rasa hormat yang sangat mendalam dan terimakasih yang sangat besar selalu saya tanam dalam diri saya, kepada para guru kehidupan saya yang sangat luar biasa besar jasanya dan semoga Allah selalu melimpahkan pahalaNya kepada mereka, salah satunya adalah Kak Kingkin Suroso, yang telah menanamkan benih-benih rasa cinta kepada maritim Indonesia, nilai-nilai kepanduan dan kedisiplinan meski tanpa seragam yang membungkus tubuh, nilai-nilai kesederhanaan yang apa adanya, serta nilai-nilai lokal dalam kepemimpinan yang beliau ajarkan meski tanpa tanpa sikap mengajari. Prinsip kepemimpinan Nusantara yang Bersahaja dan Membumi…..

Oleh  : Ruly Rahadian

Staf Ahli Bidang Bela Negara Direktorat Potensi Pertahanan Kementrian Pertahanan RI

LEAVE A REPLY