Menhan RI: Perang Cuci Otak Ancaman Nyata

MenhanJurnalPatroliNews BANDA ACEH – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meminta semua komponen bangsa untuk memperkuat infrastruktur pertahanan guna menghadapi beragam ancaman. Ia mengatakan ancaman ini termasuk perang cuci otak.

“Ancaman yang kita hadapi semakin kompleks baik ancaman yang belum nyata maupun ancaman nyata seperti ancaman perang cuci otak,” katanya, saat memberikan pengarahan kepada prajurit TNI Kodam Iskandar Muda di Banda Aceh, Rabu (4/7).

Ryamizard menuturkan fenomena potensi ancaman terhadap NKRI terbagi dua dimensi ancaman utama. Pertama, ancaman belum nyata, yaitu ancaman perang terbuka antarnegara.

Kedua, ancaman sangat nyata yang sedang dan kemungkinan dapat dialami setiap negara di kawasan. Ancaman ini dihadapi baik secara sendiri-sendiri maupun yang bersifat lintas negara.

“Saat ini seluruh belahan dunia tengah menghadapi potensi ancaman sangat nyata, yakni terorisme dan radikalisme generasi ketiga pasca Al Qaeda dan DAESH, bencana alam, narkoba, dan yang paling berbahaya adalah ancaman perang cuci otak,” katanya.

Selain itu, tambah Ryamizard, ada beberapa isu faktual di kawasan. Isu tersebut, yakni situasi di Semenanjung Korea, perkembangan di Laut China Selatan, isu trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS Asia Timur serta perkembangan krisis Rohingya.

Menhan mengatakan ada enam hal pedoman penting untuk memperkuat infrastruktur pertahanan. Pertama, komunikasi yang efektif antara pemimpin dan anak buahnya.

Kedua, strategi negara menghadapi ancaman nyata. Ketiga, penguatan mindset seluruh komponen bangsa menghadapi perang cuci otak.

Keempat, penanaman nilai-nilai kesadaran bela negara. Kelima, situasi aktual pasca Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019. Keenam, pentingnya peningkatan profesionalisme prajurit.

”Untuk menghadapi beragam potensi ancaman tersebut diperlukan konsep pembangunan mindset seluruh rakyat Indonesia,” kata dia.

Menhan mengatakan pembangunan pola pikir atau mindset dapat dilakukan melalui penanaman wawasan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila sebagai ideologi negara. Ini, dia menyebutkan, agar masyarakat tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh upaya pencucian otak dari kelompok tertentu.

Selain itu, desain strategi pertahanan negara diarahkan dengan konsep perang rakyat semesta atau total warfare. Penerapan konsep ini harus melibatkan pembangunan seluruh komponen bangsa dilandasi penanaman nilai-nilai kesadaran bela negara disertai pembangunan kekuatan TNI dengan alutsistanya sebagai komponen utama pertahanan negara.

“Intinya, hanya ada satu kata kunci untuk menghadapi keniscayaan masuknya beragam potensi ancaman fisik dan non fisik, yaitu perkuat identitas dan jati diri bangsa, perkuat persatuan serta kesatuan bangsa dengan penanaman nilai-nilai Pancasila dan kesadaran bela negara,” kata dia. (Ant/dai)

LEAVE A REPLY