Menteri Riset dan Teknologi “Jakarta Terancam Krisis air Bawah Tanah”

Tangerang-JP :  Jakarta terancam krisis air bawah tanah akibat minimnya pengawasan terhadap penyedotan air oleh pihak industri atau pabrik.  ujar Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, Senin 28/11

Menurut  Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta dalam acara Open Science Meeting ke 6 di Puspiptek, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Senin 28/11. Akibat tidak adanya pengawasan terhadap penggunaan air bawah tanah oleh pemerintah terhadap pelaku industri, menyebabkan daerah Jakarta rawan mengalami krisis air bawah tanah.

Ia mengingatkan, khususnya wilayah Jakarta, untuk mewaspadai ancaman krisis air bawah tanah. Sebab, bila terjadi kekeringan dan kemudian air laut masuk ke dalam tanah, maka kondisi air sudah tidak baik bagi kesehatan warga Jakarta. Apalagi, keberadaan Ruang Terbuka Hijau di Jakarta masih dibawah standar yakni hanya mencapai 10 persen.

Dalam UU tentang RTRW nasional, bahwa setiap wilayah minimal mempunyai RTH 30 Persen. Kedua RTH tersebut dibagi, yakni RTH private 10 persen dan RTH publik sebesar 20 persen. RTH tersebut diantaranya, lapangan golf, taman kota , median jalan, pedestrian, lapangan bola dan kebun.

Dengan kondisi RTH di Jakarta yang belum mencapai angka minimal dari yang ditetapkan, maka perlu dilakukan  penanganan seperti penghijauan, ujarnya.

Oleh karena itu, Pemerintah perlu melakukan pengawasan dan pengaturan terhadap penyedotan air bawah tanah oleh pihak industri.

Langkah lain yang akan dilakukan adalah dengan gerakan penanaman pohon. “Dengan begitu, akan terjaga juga polusi udara,” katanya.

LEAVE A REPLY