Para Perempuan Yang Menghabiskan Tabungan Masa Depan Untuk Membekukan Sel Telur

FOTO GETTY IMAGES
FOTO GETTY IMAGES

JurnalPatroliNews – Jumlah perempuan muda yang membekukan sel telur mereka meningkat, seiring meningkatnya jumlah utang. Tapi kenapa mereka mau menghabiskan ratusan juta?

Nadine, pekerja industri restoran di New York dilarang terlalu banyak gerak karena dia sedang bersiap membekukan sel telurnya.

Meski demikian dia tetap rutin bersepeda sejauh 3,2 kilometer antara flatnya di Manhattan dan klinik kesuburan untuk melakukan tes ultrasonik.

Tekanan berlebihan pada tubuhnya bisa merusak sel telur yang tumbuh di rahimnya, dan bersepeda melintasi New York pada jam sibuk tentunya memicu stres. Hanya pada hari operasi, dua tahun lalu, dia akhirnya naik taksi.

“Saya berpikir, ini adalah cara berhemat,” kata Nadine menjelaskan. Dia adalah satu dari ribuan perempuan per tahun yang memutuskan untuk membekukan sel telur mereka dan menyimpannya sebagai semacam asuransi masa depan.

Beberapa orang berharap dapat mengawetkan kesuburan mereka sementara mereka mencari pasangan yang tepat, atau agar mereka bisa menunda punya keluarga ketika sedang mengejar karier.

Prosedurnya seperti setengah tindakan IVF (in vitro vertilisation alias bayi tabung). Hormon yang memicu pertumbuhan beberapa sel telur diberikan, kemudian sel telur itu diambil sebelum dibekukan.

Nantinya perempuan bisa menggunakan sel telur itu untuk IVF, jika mereka tak bisa hamil secara natural.

Tapi seperti juga asuransi yang lain, pembekuan sel telur (disebut juga oocyte cryopreservation) bisa jadi beban finansial berat. Satu sesi bisa dihargai US$17 ribu (atau Rp 244 juta). Di Inggris, satu sesi bisa dihargai £2,500 sampai £5,000 (Rp48 juta – Rp100 juta).

Membayar harga tersebut bisa menimbulkan kesulitan keuangan untuk para perempuan, yang punya pendapatan lebih sedikit dan menabung lebih sedikit dibanding para lelaki.

Banyak perempuan yang membekukan sel telur mereka mengosongkan tabungan, dan tak sedikit yang berutang banyak untuk membayar operasi dan obat-obatannya.

Tapi kenapa para perempuan ini mau membayar harga yang sangat mahal—terkadang seharga tujuan hidup lain seperti punya rumah, atau kemapanan finansial, untuk membekukan sel telur yang mungkin tak akan mereka perlukan?

Bahkan jika mereka memang memakai sel telur itu, tidak ada jaminan apa pun bahwa sel telur yang dibekukan itu akan berbuah jadi kehamilan yang sukses.

Beberapa perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Facebook mulai menawarkan untuk membayari pembekuan sel telur karyawan mereka sebagai fasilitas. Tapi ini dikritik sebagai upaya untuk mendorong perempuan “menyerah pada kendali perusahaan” yang meminta mereka menunda hubungan personal demi bekerja lebih lama.

Kedua perusaahan ini beralasan bahwa tawaran ini diberikan sebagai jawaban atas permintan karyawan, dan untuk memberi mereka lebih banyak pilihan.

Biayanya tak sedikit untuk melakukan ini.
Biayanya tak sedikit untuk melakukan ini.

Beberapa paket asuransi kesehatan juga akan menjamin pengawetan sel telur jika memang dinyatakan perlu secara medis, misalnya sebelum kemoterapi. Tapi tetap saja sebagian besar perempuan membayar sendiri prosedur itu.

Nadine, kini 36 tahun, hidup hemat sepanjang usia 20-30-an tahun agar dia bisa menabung untuk uang muka rumah.

Dia sempat mengumpulkan US$30.000 (Rp430 juta) di bank, yang sebagiannya dia investasikan untuk bisnis sampingan. Namun pada umur 34 tahun dia putus dari sebuah hubungan yang sudah berlangsung lama, sehingga dia pun memutuskan untuk membekukan sel telurnya.

Dia mengambil seluruh sisa tabungannya, US$5.000 (Rp71 juta), berutang US$8.000 (Rp115 juta), semua untuk ongkos pengambilan sel telur, dan membayar obat stimulan ovarium sebesar US$1.000 (Rp14 juta) dengan kartu kreditnya.

Empat bulan setelah membekukan sel telurnya, pada Desember 2016 dia mendapat bonus dan kenaikan gaji, sehingga dia mampu melakukan pembekuan kedua pada Januari 2017 tanpa harus menambah utang.

Tapi meskipun kini dia sudah punya pendapatan yang lebih besar dibandingkan sebelumnya, Nadine masih terlilit utang dari pembekuan pertama.

Dia masih suka melihat-lihat properti, dan bahkan menghubungi agen properti, sampai akhirnya dia tersadar dengan kenyataan.

“Di dalam pikiran, saya merasa seperti punya uang, karena memang saya pernah punya,” kata dia.

“Tapi dengan kondisi percintaan saat ini, saya mungkin tak akan menemukan orang yang tepat dalam 2, 4, atau 100 tahun. Umur 34 sepertinya adalah batas usia ketika dokter kesuburan menyarankan pembekuan sel telur, jadi ini bukan hal sulit. Saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan.”

Jumlah perempuan yang membekukan sel telur mereka meningkat tajam beberapa tahun terakhir.

Hanya ada 564 pembekuan sel telur di AS pada 2009, dan di 2016 jumlah ini meroket jadi 8.892, menurut Society for Assisted Reproductive Technology. Di Inggris, Human Fertilisation and Embryology Authority mencatat 1.170 pembekuan sel telur, meningkat dari 395 di 2012.

Kenaikan ini bisa sedikit dijelaskan pada 2012, ketika American Society for Reproductive Medicine menghapuskan kata ‘eksperimen’ setelah teknologi pembekuan sel telur punya kemungkinan lebih besar untuk pembuahan setelah dicairkan.

Liputan media soal perusahaan teknologi yang menawarkan pembekuan sel telur sebagai fasilitas perusahaan, dan para selebritas yang bicara soal pembekuan sel telur mereka meningkatkan kesadaran akan adanya pilihan ini.

Ditambah lagi perusahaan semacam EggBanxx, layanan finansial yang menawarkan utang untuk pembekuan sel telur, yang menarik perhatian dengan menggelar ‘pesta’ pembekuan sel telur.

Penelitian tentang semacam ‘pembekuan sel telur sosial’ ini menyimpulkan bahwa perempuan mungkin melakukan perjudian mahal ini karena penyebab yang lebih dalam daripada sekadar ingin fokus para karier.

Riset yang tidak dipublikasikan oleh ahli antropologi Universitas Yale, Marcia Inhorn, menemukan bahwa 90 persen dari 150 perempuan Amerka yang dia wawancara sebagai bagian penelitian tetang pembekuan sel telur mengatakan bahwa pencarian teman hidup menjadi penyebab utama mereka melakukan proses ini.

Zeynep Gurtin, periset tamu di Universitas Cambridge menyatakan bahwa fenomena serupa juga terjadi di Inggris.

Tapi apa artinya ini untuk kondisi finansial perempuan?

Perempuan punya pengasilan lebih sedikit di hampir semua sektor ekonomi, dan punya aset dalam bentuk properti dan pensiun yang lebih sedikit. Di Amerika, perempuan hanya menghasilkan 32 sen dari setiap dolar yang dihasilkan laki-laki.

Meskipun jumlah perempuan yang membekukan sel telur mungkin terlalu kecil untuk mempengaruhi angka nasional, untuk individu biayanya signifikan.

Emma Jane, perencana acara paruh waktu di London, punya pendapatan sekitar £55.000 per tahun dan mulai mempertimbangkan pembekuan sel telur ketika berusia 37 tahun, setelah tidak punya pacar serius selama beberapa tahun.

Dia mencari klinik dengan hati-hati, dan melakukan tes awal di klinik yang menawarkan konsultasi murah—sekitar £200 (Rp3,8 juta), kata dia.

Pada bulan November 2017, dia mengambil sembilan sel telur di sebuah jaringan klinik Inggris yang dikenal sebagai pelopor teknik stimulasi ringan, yang menggunakan lebih sedikit obat sehingga menurunkan biaya prosedur, tetapi juga menghasilkan lebih sedikit telur.

Meski begitu, dia harus menguras £5.100 (Rp97 juta) untuk prosedur itu, termasuk obat dan tes darah.

“Biayanya banyak sekali,” kata Emma Jane. Dia sekarang berencana menjalani siklus kedua—dokter menyarankan perempuan melakukan 20 siklus untuk kemungkinan terbesar melahirkan.

Menyimpan telurnya juga akan membuat Emma Jane membayar £360 (Rp6,8 juta) per tahun, yang artinya puluhan juta jika ia menyimpannya maksimal sepuluh tahun di Inggris.

Lalu ada biaya IVF sendiri, yang bisa mencapai £5,000 atau lebih untuk perawatan pribadi, jika dia memakainya.

Biayanya bisa menjadi amat sangat banyak. Emma Jane membandingkannya dengan “polis asuransi yang bisa jadi membuang-buang uang, karena saya mungkin bertemu pasangan hidup dan punya anak secara alamiah”.

“Bahkan jika besok saya bertemu pria impian, akan makan waktu cukup lama sampai kami menetap dan menikah. Kemudian jika kami memilih untuk punya anak, saya mungkin sudah berusia 40 tahun, dan jika saya ingin dua anak, saya mungkin akan berusia awal 40-an.”

Tetapi apa yang dibayar para wanita ini sebenarnya masih sebatas harapan. Teknologi ini tidak dijamin kesuksesannya, karena mayoritas siklus IVF berakhir dengan kegagalan—hanya seperlima yang berhasil— dan selalu ada kemungkinan bahwa sel telur beku tidak berhasil dicairkan, atau bisa memiliki kelainan kromosom.

Helaine Olen, seorang penulis keuangan dan penulis buku Pound Foolish, mempertanyakan mengapa begitu banyak uang mengalir ke industri dengan tingkat keberhasilan rendah.

“Ini soal perempuan Amerika yang membeli teknologi yang tidak terjamin sebagai cara untuk mengatasi masalah sosiologis yang lebih besar,” kata Olen.

Kebanyakan perempuan berharap bisa menemukan pasangan dan hamil dengan cara kuno (dan gratis), dan karena itu tidak perlu menggunakan sel telur beku mereka sama sekali.

Tiffany Murray, kini berusia 40 tahun, membekukan telurnya ketika berusia 34 tahun setelah tak terlalu sukses berkencan di Washington DC.

Daripada terpaksa masuk dalam hubungan yang salah hanya karena keinginan memiliki anak sebelum terlambat, dia memilih untuk membekukan sel telurnya. Orang tuanya membayar prosedur itu sebagai hadiah Natal.

Namun, empat tahun kemudian, dia bertemu dengan suaminya sekarang dan mereka hamil secara alamiah tak lama setelah menikah.

Dia masih membayar penyimpanan 14 sel telur beku, untuk berjaga-jaga siapa tahu mereka sulit hamil anak kedua. Sejak enam tahun dari pembekuan, biaya penyimpanan naik dari US$350 (Rp5 juta) menjadi US$600 (Rp8,6 juta) per tahun.

Dengan harga itu, kata Murray bercanda, rasanya seperti “sel-sel telurnya ditahan demi tebusan”.

Meskipun biaya pengambilan 30 butir sel telurnya sangat mahal dan biaya penyimpanan US$1.000 (Rp14 juta) per tahun, Nadine merasa bahwa dia membuat pilihan yang tepat. Dia bahkan mendorong teman-temannya untuk mempertimbangkan membekukan sel telur mereka.

“Ada kekesalan seputar keuangannya,” katanya, tetapi dia tidak menyesal telah berinvestasi demi masa depannya.

“Sekarang saya punya 30 anak di Upper West Side yang saya biayai US$1.000 per tahun,” kata dia sambil tertawa. Atau setidaknya, anak yang mungkin dia miliki, jika kelak dia mencairkan polis ‘asuransi kesuburannya’.

*Nama Nadine diubah untuk melindungi identitasnya, Emma Jane tidak memberikan nama lengkapnya, juga untuk melindungi identitasnya

(bbc.indonesia)

LEAVE A REPLY