Pertamina Menunda Investasi Blok Migas di Iran Pasca Sanksi AS

2015_10_22-15_53_02_d68936074a3e7824b8f34574ccdfcd75_960x640_thumbJurnalPatroliNews JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menunda seluruh rencana investasinya di Iran, termasuk pengelolaan ladang minyak Mansouri. Padahal rencananya, perusahaan pelat merah itu akan menandatangani kontrak di Lapangan Mansouri itu bulan ini.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan penundaan investasi itu karena ada sanksi yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Iran.

β€œKalau ada sanksi dari Amerika Serikat atau negara manapun, termasuk Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), kami tidak bisa lanjutkan. Posisinya kami hold karena ada sanksi,” kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/5).

Dia menjelaskan, hal ini merupakan salah satu condition precedent yang diajukan Pertamina kepada Pemerintah Iran ketika membuat kesepakatan untuk pengelolaan blok migas di negara tersebut. Dengan kondisi saat ini, maka Pertamina akan menunda rencana memiliki Blok Mansouri di Iran.

Pasalnya, jelas dia, adanya sanksi ini menimbulkan resiko bagi perseroan.

β€œKan ada resiko finansial. Pertamina pakai beberapa financing dari US atau dari mana-mana melalui global bond,” tutur Alam.

Namun, pihaknya belum mengetahui langkah lanjutan soal rencana impor gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) dari Iran pasca adanya sanksi.

Pengelolaan lapangan Mansouri ini merupakan buah hasil kerja sama dari kunjungan Presiden Joko Widodo saat melawat ke Iran akhir tahun 2016. Langkah itu juga sejalan dengan upaya Pertamina untuk terus agresif mengembangkan bisnis hulu migas di luar negeri.

Iran merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar ke-4 di dunia. Total cadangan minyak terbukti di negara tersebut mencapai 157 miliar barel atau setara 9,3 persen dari total cadangan terbukti di dunia.

Iran juga memiliki cadangan gas terbukti terbesar di dunia sebesar 1,200 triliun kaki kubik (TCF), yang setara dengan 18,2 persen dari total cadangan dunia.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan akan mengandalkan produksi migas dari aset-asetnya di luar negeri di masa mendatang, dengan target kontribusi mencapai 33% dari total produksi 2025 atau setara dengan 650 ribu barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd).

Akuisisi di luar negeri diperlukan guna memperkecil selisih kebutuhan dan pasokan migas domestik di masa mendatang.

Saat ini, Pertamina telah memiliki blok migas di beberapa negara lain. Di Aljazair, perusahaan migas pelat merah ibu menguasai 65% saham di Lapangan MLN dab 16,9% di Lapangan EMK.

Di Irak, perseroan memiliki saham di Lapangan West Qurna 1. Sementara di Malaysia, perseroan memegang kepemilikan saham di Blok K, Blok Kikeh, Blok SNP, Blok SK309 dan Blok SK311.

Yang terbaru, Pertamina menguasai 72,65% saham perusahaan migas Perancis, Maurel&Prom. Maurel&Prom memiliki aset migas yang tersebar di Gabon, Nigeria, Tanzania, Namibia, Kolombia, Kanada, Myanmar, Italia, dan negara lainnya. Namun, aset utamanya yang telah berproduksi yakni di Gabon, Nigeria, dan Tanzania. (dai)

LEAVE A REPLY