Santri Membangun Desa Dan Masyarakat

haryono suyono 1JurnalpatroliNews – BEKASI: Kendati masih dalam masa pendidikan, para santri hendaknya selalu praktik bersama rakyat di desa. Dalam rangka kerja bhakti membangun desa dan keluarga desa, utamanya anak-anak muda di desa.

Pernyataan itu disampaikan pakar Pemberdayaan Keluarga Prof Dr  Haryono Suyono, pada saat acara Bhakti Sosial dan Tabligh Akbar Yayasan Hubbul Qur’an Lil Alamin, di Desa Mangun Jaya, Kecamatan Tambun, Kabupaten Bekasi, Minggu (29/4/2018).

Haryono yang hadir atas undangan KH Suryahadi, didampingi Dr Mulyono D Prawiro, menganjurkan agar para santri selalu menggunakan ilmu dan kemahirannya membaca Kitab Suci Al Qur’an, selain untuk diri sendiri dan secara dini berbagi kepada anak muda sebaya di desa yang dikunjunginya. Pada kesempatan itu, dia juga berbincang dengan Prof. Dr. Wisnu Garjito yang ahli mengolah kelapa dan Dr Anton Pasaribu yang ahli koperasi.

Dia menganjurkan agar setiap santri dengan bangga menggunakan pendekatan simpati dan penuh kasih sayang karena yang mau belajar belum tentu mahir membaca atau bertingkah laku islami. Sehingga, setiap santri tidak perlu mempermalukan siapa saja yang dijumpainya di desa.

Dianjurkan pula, agar setiap santi menggunakan cara-cara dan bahasa yang biasanya digunakan Bunda Paud, yang menerima dan mengajar anak balita yang dipercayakan oleh orangtuanya kepada Bunda Paud. Seorang anak balita, ujarnya, biasanya sangat lekat kepada bapak ibunya. Tapi, Bunda Paud yang baik dalam waktu kurang dari satu hari bisa merebut hati anak balita dan biasanya berbalik menjadi sangat cinta kepada Bunda Paudnya.

Apabila sedang belajar menyanyi, maka Bunda Paud akan dengan serta merta memuji dan selalu berkata : “bagus sekali, ulangi … ulangi” sehingga anak balita yang bersangkutan akan bangga dan dengan senang hati mengulangi dan menirukan tuntunan Bunda Paudnya.

Akhirnya anak itu akan mahir dan betul-betul bisa menyanyi dengan baik. Tidak ada Bunda Paud yang baik membentak anak balita asuhannya. Cara demikian perlu ditiru oleh para santri dalam berbagi kepada masyarakat desa tetangga.

Sehingga, kemampuan, mutu dan kemahiran membaca Kitab Suci dapat menular dengan baik. Segera setelah itu diikuti dengan pemahaman isinya, kemudian setiap kali para santri memberi contoh tingkah laku menurut kaidah agama dan ketrampilan. Sehingga, para pengikutnya menjadi insan yang paham agama dan mandiri.

Contoh dan keteladanan itu bukan basa-basi, tetapi suatu sikap yang berubah dan diikuti tingkah laku yang setiap kali mengandung percontohan. Karena Iman yang tinggi dan percaya bahwa tingkah laku itu selalu merupakan amal ibadah, yang harus selalu baik dan luhur.

Karena segala tindak tanduk diikuti dan dicatat oleh Allah yang Maha Besar sebagai amal ibadah yang mengantar kita nanti menghadap kepadaNya. Sikap dan tingkah laku yang konsisten tidak saja dilakukan para Santri di muka pak Kyai, tetapi di muka diri sendiri perlu tetap konsisten.

Semuanya akan dicatat dan direkam dengan sangat teliti melebihi rekaman alat canggih yang ada di dunia nyata. Suatu rekaman yang menjadi modal amal ibadah yang sangat besar artinya, untuk kita sendiri di hari nanti.

LEAVE A REPLY