TPM Sebut Penyebab Kerusuhan di Mako Brimob Dikarenakan Makanan dan Hari Besuk Keluarga

Achmad-Michdan-696x459JurnalPatroliNews JAKARTA – Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM), Achmad Michdan menyebutkan masalah pemeriksaan makanan untuk narapidana teroris di penjara banyak dikeluhkan napi. Salah satunya napi teroris yang dititipkan di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Dia meberkan pemicu lain dari bentrokan antara narapidana terorisme dengan aparat kepolisian di Markas Komando Brimob, Selasa (8/5) malam. Michdan mengaku saat kejadian itu mulai terjadi, salah satu dari kliennya di Mako Brimob menghubungi dia untuk memberi tahu adanya insiden bentrokan.

“Sebelum kejadian saya dihubungi itu sekitar jam setengah 21.00 malam, hari Selasa. Komunikasinya itu lewat telepon, memang itu ada kejadian. tersebut. Terdengar juga saat itu suara letusan. Dia bilang, pak ada korban,” kata Michdan di Kantor Pusat MER-C, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (10/5).

Setelah mendapat kabar, Michdan langsung menghubungi Komnas HAM dan Komisi III DPR RI. Namun, tidak ada respons.

“Saya hubungi komisioner dan juga Komisi III supaya mereka ikut dan mencermati paling tidak barangkali bisa mengambil langkah tepat untuk menghindari adanya korban,” jelas kuasa hukum terdakwa ujaran kebencian, Alfian Tanjung ini.

Michdan menceritakan, saat hari kejadian, adalah hari besuk keluarga buat para tahanan. Namun, hari besuk itu kemudian dibatalkan oleh pihak pengamanan di Mako Brimob.

Menurut Michdan, besuk menjelang Ramadan adalah hari yang sangat berarti buat para tahanan. Sebab, mereka membutuhkan persiapan, terutama dari segi makanan untuk bulan Ramadan.

“Saya mendapatkan informasi, hari besuknya dibatalkan dan biasanya pembesukan jelang Ramadan itu, biasanya persiapan membawa makanan, persediaan puasa. Itu sudah biasa mereka lakukan,” tutur Michdan.

Hal itu kemudian, menurutnya, diperburuk oleh makanan yang disediakan lapas, yang pada umumnya tidak memenuhi gizi tahanan maupun jumlahnya yang sangat terbatas, sehingga cenderung tidak memenuhi hak-hak kemanusiaan bagi para tahanan.

“Padahal, makanan yang terima itu bukan saja dari gizi kurang, tetapi juga jumlahnya relatif. Kemudian, mereka tidak bisa apa apa dan paling tidak adalah bawaan dari keluarga itu harapan dari mereka,” paparnya.

Meski begitu, dia juga tidak memungkiri bahwa kericuhan yang dilakukan tahanan terduga teroris tersebut disebabkan oleh persoalan lama yang telah mengkristal, seperti mulai dari proses penangkapan, penahanan, maupun persidangan mereka yang dianggap tidak memenuhi hak-hak asasinya.

“Proses yang selama ini kita ketahui bersama dari mulai penangkapan, penahanan, sampai mereka disidangkan itu banyak hal-hal yang dirasa sebagai pelanggaran hak asasinya. Pada intinya itu. Ya, perlakuan yang paling mendasar mereka sebetulnya punya hak didampingi penasihat hukum. Nah, ini hampir enggak boleh tim pengacara hukum menemani,” ucapnya.

Lima anggota Polri dan satu narapidana terorisme tewas dalam kejadian tersebut.

Berdasarkan hasil autopsi, lima anggota Polri meninggal akibat luka benda tajam. Sementara satu narapidana terorisme ditembak karena melawan dan merebut senjata petugas.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, kerusuhan bermula dari urusan makanan. Tahanan kasus terorisme Wawan, marah besar ketika makanan yang dititip oleh keluarga tidak sampai ke tangannya. Wawan lalu mempengaruhi narapidana terorisme lainnya untuk membuat keributan. (dai)

LEAVE A REPLY